Rabu, 17 November 2010

pengganggu dalam bulan madu

Alice berdiri di belakang suaminya yang
sedang bicara dengan seorang petugas
di resepsionis, tangan di belakang
menggenggam mesra tangan Alice.
Semua orang tak hentinya
mengucapkan selamat, setiap kali berpapasan dengan pasangan yang
baru saja menikah ini. Keduanya begitu
jelas terlihat baru menikah karena Alice
masih tetap memakai busana
pengantinnya. Suaminya melepaskan
genggaman tangan mereka untuk menandatangani pemesanan kamar.
Alice melangkah mundur dari meja
resepsionis dan menyapukan
pandangan ke seputar lobi. Seorang pria
negro sedang memandanginya.
Pandangan mata mereka bertemu dan Alice membalasnya dengan senyuman,
menganggap mungkin sang pria
merasakan kebahagiaan yang
terpancar dari pasangan pengantin baru
di depannya. Tapi tatapan matanya tak
juga bergeming. Apa ini? Sesuatu tentang raut wajahnya memaksa batin
Alice berbisik. Dia tahu arti dari
ekspresinya tersebut, tapi tak mampu
untuk menjelaskannya. Intensitasnya
menyebarkan atmosfir. Matanya yang
tak berkedip mengisyaratkan kalau dia tengah memikirkan sesuatu …Alice palingkan pandangnya. Sang pria ingin
menyetubuhinya! Telah dia lupakan
gairah akan pria lain semenjak
berkencan dengan Tom. Dia tahu dengan
cepat bahwa Tom adalah pria spesial
untuknya dan segera dia tutup hatinya bagi pria lain. Dia telah lupa, atau tak
menyadari, bahwa semua pria suka
memandang kecantikannya. Pria itu
ingin menyetubuhinya. Tapi apa yang
Alice cemaskan? Dia sudah menikah
sekarang! Terlihat jelas telah menikah! Kembali dia menoleh ke arah sang pria,
yang tak pernah henti memandangnya.
Dia amati wajahnya sekarang, memang
tidak tampan dan berkulit gelap, segelap
rambut hitamnya dan matanya yang
juga senada, tapi seperti ada daya tarik tersendiri. Kenapa dia cuma terus
menatapnya saja? Kenapa dia tidak
tersenyum atau bahkan memberi
isyarat yang cabul? Alice baru sadar
kalau dia telah balas menatap sang pria
untuk sekian lama setelah Tom menyentuh pundaknya. Dia tersenyum
pada suaminya, kemudian ikut
melangkah menuju ke kamar yang
mereka pesan. Dia mulai merasa
terangsang. Dia menyetubuhi suaminya
dengan segenap hasrat. Pengantin baru ini bercinta dengan penuh gairah, berisik
dan liar. Tom menyutubuhinya di atas
ranjang, lalu di lantai dan terakhir di
dalam bathub. Mereka terlelap ke alam
mimpi dengan tubuh telanjang saling
dekap. Alice merinding setelah air yang
membasahi tubuhnya perlahan berubah
jadi dingin. Dia berdiri di dalam bathtub,
membiarkan payudaranya yang basah
menggantung bebas dihadapan
suaminya. Kemudian dia melangkah keluar dari dalam bathub dan menuju ke
depan cermin. Dia tertawa saat melihat
kulitnya yang mulai berkerut kedinginan
di depan cermin. Tawanya terhenti saat
dia mainkan kalung rantai yang telah
diberikan Tom sebelum mereka menikah. Dia tak tahu asal usulnya, tapi
suaminya mengatakan kalau rantai itu
merupakan sebuah simbol ikatan cinta
yang kuno. Selama dia memakainya,
mereka berdua tak akan dapat
terpisahkan. Dia memegangnya, memantulkannya di atas kekenyalan
payudaranya dan kemudian mencoba
mengepaskan bulat payudaranya
dengan lingkaran rantai tersebut. Entah
bagaimana, dia dapat merasakan Tom
tengah menyentuhnya setiap kali rantai tersebut bersentuhan dengan kulitnya.
Dia melangkah masuk ke dalam kamar
dan mengeluarkan jubah sutera
berwarna emas yang pendek dari
dalam tasnya. Dibungkuskan lembutnya
kain tersebut ke tubuh telanjangnya. Dia duduk di atas ranjang, membuat ujung
jubahnya tersingkap hingga atas
pahanya dan menampakkan sedikit
vaginanya yang mengintip. Dia
tersenyum ketika menyadari betapa
terbukanya jubah pendek tersebut. Tom akan sangat suka dia memakainya, atau
lebih tepatnya lagi, menyetubuhinya
dalam balutan jubah sutera tersebut.
Suara gemericik shower menyadarkan
Alice dari suasana erotisnya. Dia
mempertimbangkan untuk masuk saja ke dalam kamar mandi, menyusul
suaminya dalam guyuran air hangat,
tapi dia merasa begitu haus. Dia raih
dompetnya dan mengeluarkan
beberapa recehan. Dia putuskan untuk
membeli sebotol teh dingin, lalu melihat apa suaminya butuh bantuannya apa
tidak. Dia keluar dan melangkah
menyusuri lorong, lupa akan jubahnya
yang pendek dan tipis. Bergegas dia
menuju mesin penjual minum otomatis
di lantai terdekat, memasukkan koin recehannya dan membungkuk untuk
mengambil minumannya. Terdengar
suara pintu yang dibuka datang dari
lorong saat dia ambil kaleng
minumannya. Dia tolehkan wajahnya ke
arah sumber suara tadi. Itu sang pria tadi. Dia berjalan
mendekatinya, langkahnya
menunjukkan keyakinan diri atau
ketidakpedulian, Alice tak tahu yang
mana. Tapi sorot matanya membimbing
Alice untuk mempercayai bahwa itu adalah sebuah keyakinan diri yang kuat.
Alice merasa tak kuat berdiri menahan
tubuhnya, dia mulai rubuh. Sang pria
semakin dekat, dia raih tangan Alice
untuk membantunya berdiri, memegang
kepalanya dan mengarahkan agar tatapan mata Alice tetap
memandangnya. Ada sesuatu dalam
sorot matanya … begitu misterius… begitu memikat … begitu penuh nafsu… tapi sama sekali tak mengancam. Sang
pria tersenyum. Alice terlalu mati rasa
untuk merespon. Sang pria kembali
berjalan menyusuri lorong
meninggalkannya. Sebuah hembusan
hawa dingin menyapu pahanya dan naik menggelitik rambut di
selangkangannya. Sang pria telah
melihat pantatnya. Dia sadar kalau
jubahnya yang begitu pendek pasti
tersingkap naik saat dia membungkuk
untuk mengambil minumannya tadi. Pantat telanjangnya akan terlihat
membulat nikmat dalam posisi tersebut
– dia mengetahuinya dari beberapa pose yang pernah dia lakukan didepan
cermin. Lalu dia menyadari sesuatu
yang jauh lebih penting. Sang pria pasti
juga telah melihat vaginanya. Telah dia
saksikan sendiri lipatan bibir vaginanya
yang mengintip begitu menggoda dari bawah pantatnya. Sang pria pasti sudah
melihatnya. Alice bergegas kembali ke
kamarnya, kembali pada suaminya. Tom
akan dengan senang hati menyetubuhi
isterinya yang berpakaian minim lagi.
Alice muncul di kamar mandi dan memberi suaminya sebuah pertunjukan
kecil. Dia membungkuk seperti yang
dilakukannya di mesin minuman tadi,
bertanya pada suaminya, “Apa kamu pikir ini terlalu pendek ?” Jelas dia akan berkata “Tidak. ” Lalu Alice kembali bertanya,
“Bukankah kalung rantai ini pas di sini?” Dan mulai membuka bagian depan jubahnya, mengekspos kalung
rantai dan payudaranya. Dia biarkan
pemberian suaminya tersebut
menggantung di putingnya. Tom menelan jawabannya. Alice
menjatuhkan jubahnya ke atas lantai,
lalu melangkah masuk ke dalam
siraman air hangat bersama suaminya.
Alice telah lupa perjumpaan dengan
sang pria pada malam sebelumnya. Dia terbangun dari tidurnya, tubuh
telanjangnya menempel rapat ke tubuh
telanjang suaminya dan pikirannya
hanya dipenuhi oleh kebahagiaan dan
masa depan yang menanti mereka. Dia
melangkah ke kamar mandi dan melihat jubah berwarna emas yang tergeletak
di atas lantai. Pikiran tentang sang pria
asing datang kembali. Dia pasti sudah
memberinya sebuah pertunjukan yang
cukup menggairahkan! Dia pakai jubah
tersebut, mengingat bagaimana cara sang pria memandangnya.
“Apakah …” Dia membungkuk, posisi yang sama
seperti saat dia mengambil minuman
kemarin. Dia menoleh ke cermin di
belakangnya. Sudah pastilah sekarang,
bongkahan pantatnya tersingkap
dengan cepat. Vaginanya menyusul muncul tepat sesudahnya. Dia rasakan
sebuah hembuasan hawa hangat
menyapu tubuhnya karena
pemandangan tersebut. Dia bangkit dan
mengamati tubuhnya di dalam pantulan
cermin. Dia amati putingnya mengeras dari balik jubah suteranya dan dia mulai
memainkan jubah tersebut. Dia
singkapkan lebih untuk memperlihatkan
daging payudaranya lebih banyak lagi,
lalu menutupnya kembali. Dia uji
seberapa longgar dia bisa mengikat bagian depan tanpa terlalu banyak
memperlihatkan tubuhnya. Dia nikmati
belahan dadanya yang terlihat
menggiurkan. Tanpa berpikir, tangan
kirinya menyelinap ke balik jubah
suteranya dan meremas payudaranya yang sebelah kiri dengan lembut. Tak
mampu dia cegah untuk memikirkan
sang pria asing dan betapa senangnya
dia jika sang pria melihatnya seperti
sekarang ini! Kain sutera tersebut
menggantung dengan lembut di pinggir payudara telanjangnya, terlipat seiring
gerakan naik turunnya. Dia bayangkan
mata sang pria menatap tak berkedip
padanya … pada dadanya. “Dia mungkin sudah melihat vaginaku, tapi dia belum lihat yang ini !” Tangan kananya merayap menaiki
pahanya, menyusup ke dalam jubah. Dia
usap vaginanya dan memandangi tubuh
indahnya yang menggelinjang. Jubah
tersebut tetap dalam keadaan terikat
longgar pada bagian depan. Dapat dia lihat pandangan penuh gelora birahi
dalam tatapan matanya. Seperti itukah
dia membalas tatapan mata penuh
nafsu dari sang pria? Dia pejamkan
matanya setelah pikiran itu terlintas. Alice merasa mata sang pria tengah
mengawasinya sekarang.
Keberadaannya di dalam benaknya. Dia
hayalkan sang pria asing berada di
seberang cermin, memandang
payudaranya yang terguncang … melihat dia tengah memuaskan dirinya sendiri.
Dia selipkan satu jarinya masuk ke
dalam celah vaginanya. Apakah ini jari
sang pria?
“Oooh…” Alice mendorong jarinya masuk ke dalam lubang vaginanya
sendiri dengan keras, mengangkat
pinggulnya berlawanan arah dengan
sodokan jarinya.
Bagaimana jika ini adalah batang
penisnya? Alice berhenti. Dengan cepat dia tutup jubahnya dan melangkah
menuju ke dalam kamar. Tanpa melihat
ke arah suaminya, dia kenakan
sepotong celana pendek dan menutupi
payudara telanjangnya dengan sweater
yang ringan. Dia akan turun untuk mendapatkan secangkir kopi … dia akan turun dan melupakan bayangan yang
baru saja dia hayalkan. Alice menerima
secangkir kopi dari si gadis di belakang
meja konter. Dia teguk cairan panas itu,
berharap dapat meredakan gemetar
tubuhnya. Tapi malah semakin menambah merah kulitnya yang telah
merona. Dia berbalik dan melangkah
menuju ke lift.
“Ya ampun …” Sang pria asing berdiri di pintu. Lift itu
mengarah turun, tapi dia tidak keluar.
Alice melangkah masuk, merasa aman
karena ada sepasang orang berumur
lebih tua masuk bersamanya. Dia
menolak memandang ke arah sang pria, tapi dia tahu kalau mata sang pria
memandanginya. Dia MERASAKAN mata
sang pria di tubuhnya. Jantungnya
berdegup kencang dibalik sweaternya.
Dia teguk kopinya dengan tangan yang
gemetar. Dia gigit bibir bawahnya saat merasakan denyutan diantara pahanya.
Perasaan itu tumbuh makin besar,
seakan ada jari yang menggosok bibir
vaginanya, mengirimkan getaran
menggelora ke sekujur tubuhnya.
Vaginanya bereaksi sendiri, seakan tahu kalau pernah dilihat dan ingin untuk
kembali dipandang. Kembali dia teguk
kopinya, tak menyadari kalau lift telah
berhenti. Pasangan tua tersebut
melangkah keluar. Tak ada seorangpun
yang masuk lagi. Lift kembali naik. Alice sadar kalau setidaknya dia melirik ke
arah sang pria. Jika tidak, sang pria akan
mendekatinya. Dia bersiap untuk
memberikan sedikit senyuman. Dia
paksakan kepalanya bergerak sedikit
ke arah sang pria, menunggu sang pria menatapnya dengan seringai serta
mengucapkan sesuatu yang kasar. Sang pria menatapnya. Seakan matanya
tak pernah berpaling, terus menatap
Alice. Seakan mata itu tak memiliki arah
tujuan lainnya, mereka terus
menatapnya. Alice merasakan
hantaman sensasi dari kepala hingga ujung kakinya. Dia akan tersenyum lalu
segera berpaling. Tapi dia tidak
tersenyum. Dia sama sekali tak
berpaling. Alice memandang tepat di
matanya dan dia sadar dirinya telanjang
baginya. Tanpa memakai pakaian dan sang pria telah melihat
ketelanjangannya untuk memperkuat
imajinasi terlemahnya. Belum pernah
Alice menyaksikan pernyataan nafsu
yang begitu berani dari seorang pria
kepadanya, bahkan sang pria belum mengucapkan sepatah katapun. Dan
Alice belum juga memalingkan muka.
Lift berhenti di lantainya Alice. Pintunya
terbuka. Seharusnya dia bergerak. Sang
pria yang bergerak. Dia mendekati Alice
hingga hanya berjarak 1 inchi darinya. Pintu lift menutup kembali. Alice
merasakan vaginanya berdenyut. Dia
rasakan putingnya terbakar. Sang pria
menciumnya. Sang pria tidak beraksi
dengan serangan nafsu buta. Dia hanya
menekankan lidahnya ke bibir Alice dan menciumnya. Alice balas mencium. Dia
rasakan bibir basahnya bertemu dengan
bibir basah sang pria dan meluncur
lembut di atasnya. Pintu lift terbuka.
Lantai berikutnya. Seorang pria dengan
anaknya masuk. Sang pria asing hentikan ciumannya seiring terbukanya
pintu lift dan bersama Alice menoleh ke
arah para pengganggu. Keabadian
seakan berjalan lambat. Alice menatap
pintu lift yang terbuka. Setiap denyut
kesadarannya mengatakan agar melangkah keluar melewati pintu
tersebut. Dia melangkah ke depan, tapi
terhalangi oleh tubuh sang pria. Tangan
sang pria berada di dada Alice. Alice
melihat penguasaannya pada
tekanannya yang lembut. Dia mulai menyadari kalau tangan tersebut telah
berada di dadanya selama ini. Dia
memaksa melewati sang pria asing,
keluar menuju ke lorong. Dia begegas ke
arah tangga, berharap sang pria tidak
mengikutinya. Dia sampai ke ujung lorong, nafasnya memburu cepat.
“Dasar wanita bodoh, kamu wanita – yang bodoh !” Dia terus merutuk dirinya sendiri saat menuruni tangga.
Begitu menyesal karena tak
membiarkan sang pria menganggap
bahwa dia telah berhasil
menaklukannya. Begitu menyesal
karena bersikap tenang dan seakan isteri yang penurut dan setia. **** Tom terbangunkan oleh isterinya, yang
sedang menggesekkan vaginanya ke
batang penisnya agar ereksi. Dia
lepaskan sweater dari tubuh isterinya
dan kalung rantai yang menggantung
dipayudara Alice menghantam wajahnya. Alice luncurkan vaginanya
pada batang penis Tom yang sudah
keras sekarang dan dan dia tarik kalung
rantainya terlepas dari leher saat dia
mulai bergerak menyetubuhi suaminya.
Sekali lagi dia berusaha keluarkan pertemuan dengan sang pria asing dari
dalam benaknya saat dia dan suaminya
tengah bersiap untuk perjalanan bulan
madu. Mereka sedikit terlambat untuk
berkemas, terima kasih pada gelora
birahi Alice. Dia butuh Penis suaminya dalam tubuhnya, itu akan mengingatkan
dia akan cinta yang dia rasa pada
suaminya dan komitmennya pada
pernikahan mereka yang suci. Selama
Tom bercinta dengannya, dunia akan
jadi sempurna. Namun hasrat Alice yang terus berkobar sepanjang hari sungguh
membuat Tom kelelahan dan akhirnya
Alice menyerah untuk membiarkan
suaminya rehat. Mereka nikmati
keindahan panorama, pergi makan
malam yang romantis dan kembali ke kamar pengantin mereka setelah
merasa segar dan siap untuk malam
panjang penuh gairah. Mereka berdiri di
depan pintu utama, menunggu
kendaraan datang. Mata terus fokus
mengamati jalanan dari bukit yang berliku panjang. Berharap taksi yang
mereka pesan segera datang dan Alice
tak perlu lagi merasa cemas melihat
sang pria asing di sekitarnya. Tapi
memfokuskan diri pada taksi ternyata
tak banyak membantu. Seakan sang pria muncul ke manapun mereka pergi,
selalu muncul dalam penglihatan Alice
saat mata Tom tak melihatnya. Sang pria
terus memandangnya saat di restoran,
saat di pantai, saat di musium. Dalam
setiap tatapan, gairahnya berkobar semakin besar terhadap Alice.
Intensitasnya seakan sebuah kontak
fisik bagi Alice, merangsang
payudaranya, membuat vaginanya
basah dan membara oleh tangan-tangan
yang kasat mata. Alice tak pernah beranjak dari sisi suaminya. Tak akan
dia biarkan sang pria menyentuhnya
kembali. Tak akan dia ijinkan sang pria
membangkitan sesuatu yang terlarang
dari dalam dirinya. Dia sekarang
seorang isteri, yang baru … Dinner datang setelah matahari
terbenam. Akhirnya mereka dapat
duduk di sebuah private restoran.
Sebuah bilik terpencil sangat
tersembunyi dari mata yang
mengawasi. Hanya mata suaminya serta mata pelayan remaja yang bisa
memandangi kecantikan Alice. Alice
menarik nafas dan menekankan kalung
rantainya ke belahan dadanya. Dia
memakai gaun yang bisa membuat
mata setiap pria terloncat keluar dan dia menerka seberapa lama suaminya
mampu menahan diri saat
memandangnya memakai pakaian
seperti ini. Tap tak lama berselang, kaki
Tom telah menemukan jalannya kebalik
rok dan menuju ke celana dalam Alice. Ujung jempolnya menggesek
selangkangannya, dia menggeser posisi
tubuhnya sedikit membungkuk ke
depan untuk menyambut sang
penyusup. Tom menjatuhkan buah
zaitun ke belahan dada Alice, lalu pura- pura kesulitan saat mencoba
mengambilnya dara dalamnya.
Tangannya merayap pelan membelai
payudara Alice. Dia membuat
permainan kecil dengannya, kadang
mengambil sesuatu barang lainnya untuk dijatuhkan ke dalam belahan dada
isterinya. Alice merasa bersyukur akan
bilik terpencil yang mereka tempati ini
karena beberapa kali tangan nakal
suaminya menyebabkan payudaranya
menyembul keluar dari balik gaun. Setiap kali Tom dengan cepat
memandang sekelililingnya, lalu
mencelupkan puting Alice ke dalam
wine atau kecap, hanya untuk kemudian
dia hapus dengan sebuah hisapan serta
kecupan bibirnya sendiri. Celana dalam Alice kuyup sudah dan dia sudah tak
sabar untuk kembali ke dalam kamar
pengantin mereka. Tom menarik tangan
Alice ke arah selangkangannya dan
menyusup ke dalam. Dia meremas penis
suaminya dari bawah meja. Tom menggigit tulang steak dengan keras,
mencoba untuk tidak mengerang keras
saat isterinya memijit dan mengocok
penisnya. Alice merasakan sebuah
cairan hangat menyembur pada
tangannya. Sial! Dia ingin memuaskan suaminya, tapi tidak ingin
menyudahinya secepat ini! Dia lap
sperma Tom di tangannya dengan
serbet, tapi dia sadar kalau dia butuh
lebih dari sekedar kain serbet untuk
membersihkannya. Dia tutupi tangannya dengan serbet dan bergegas menuju ke
toilet wanita. Keluar dari area restoran
dan menuju ke lobi. Dia temukan tanda
toilet wanita dan melangkah menuju
lorongnya. Ada seseorang sedang
duduk di kursi, di samping jalan masuk toilet wanita tersebut. Itu sang pria. Dia merasakan campuran
rasa takut dan marah. Bajingan ini masih
membuntuti mereka dan menunggu dia
keluar dari dalam restoran. Alice harap
bisa melewati pria ini sebelum dia
melihatnya. Tapi dia gagal. Sang pria berdiri, menghalangi jalannya. Hampir
saja Alice berlari menubruknya. Dia baru
saja akan berkata “Permisi,” atau “Kamu *******. ” Tapi sang pria akan sangat menikmati
pilihan yang kedua. Namun sebelum
Alice mengucapkan sepatah kata, sang
pria mulai bergerak mundur,
memberikan jalan bagi Alice untuk
menuju ke pintu masuk, meskipun Alice masih tetap berdiri di tempatnya
berada. Alice tak menatap matanya
hingga sang pria berhenti lagi. Mereka
berada di ujung lorong. Toilet wanita
terletak di tempat paling ujung hingga
keberadaan keduanya sama sekali tak terlihat dari restoran. Alice ingin teriak,
tapi kembali dia mendapati mata sang
pria. Masih tersisa gelenyar sensasi
dalam tubuhnya dari permainan kecil
dengan suaminya tadi. Dan gelenyar
tersebut terus bergolak saat mata sang pria memandanginya dalam balutan
gaun ketat. Dia merasakan matanya
berhenti di payudaranya – terasa seakan sebuah cairan hangat tertuang
dari kedua matanya. Bergerak turun ke
pinggangnya dan dia merasakan
tatapannya seakan sepasang tangan
memegangi pinggangnya. Bergerak
turun lagi ke pahanya dan dia merasa tatapanannya bagaikan angin lembut
yang berhembus pelan naik turun
menyusuri kedua pahanya. Ternyata itu
memang tangannya. Ujung jari tengah
sang pria bergerak menyusuri naik
turun daging paha Alice yang terbuka. Tangan yang satunya memegang
tangan Alice yang memegangi kain
serbet. Alice merasakan sperma
suaminya teremas diantara tangan
mereka saat sang pria
mengarahkannya menuju ke pinggang Alice. Alice merasakan tangannya
sendiri menekan gaunnya naik,
dibimbing oleh tekanan tangan sang
pria. Alice rasakan tangannya sendiri
kini menekan celana dalamnya,
menekankan serbet yang berlumuran sperma Tom ke tubuhnya. Kain celana
dalamnya terasa begitu tipis. Tangan
Alice terkulai lepas kala sang pria
menekankan serbet tersebut ke dalam
vaginanya. Alice merasa serbet basah
tersebut membasahinya, mengalir menyentuh tubuhnya. Sang pria
menekannya masuk, celana dalamnya
tertekan ke dalam celah vaginanya dan
dia rasakan jari sang pria mendorong
serbet beserta spermanya menyentuh
klitoris Alice. Alice mematung, terdiam beku.
Tubuhnya membeku seutuhnya kala
serbet tersebut perlahan menerobos
masuk ke dalam vaginanya. Itu adalah
sperma suaminya. Tapi dengan tangan
sang pria. Alice merasa dirinya berteriak, jauh di dalam hatinya. Sebuah
suara dari hati yang waras,
meneriakkan akan kesalahan dari
seluruh peristiwa ini. Tapi ini adalah
sperma suaminya sendiri!!! Namun
kemudian ada sesuatu yang terjadi, seseorang muncul dari ujung lorong.
Seorang pria, berjalan mendekati
mereka dan Alice dapat merasakan
kalau mata pria yang muncul tersebut
seakan terkunci pada obyek yang
tengah digosokkan pada selangkangannya. Alice dapat
memastikan hal itu karena tak juga dia
dengarkan suara derit pintu dibuka dari
toilet pria. Pria itu menyaksikan
seseorang sedang menggosokkan
sperma suaminya ke dalam vagina Alice. Alice seakan tersadar dari alam
bawah sadarnya dan dia bergegas lari
keluar dari lorong tersebut. Sang pria
hanya memandangnya dalam diam kala
Alice berlari melewatinya. *** Tom sedang terlelap. Mereka usai
berhubungan seks. Satu kali. Alice
membiarkan suaminya
menelanjanginya, mencium
payudaranya dan menyetubuhinya
dengan segenap hasrat. Alice mendapatkan orgasme, namun gairah
yang mereka bagi saat di meja restoran
tadi tak pernah kembali. Dia tarik wajah
suaminya mendekat,
membenamkannya diantara payudara,
mencoba untuk menarik kembali gairah dan birahinya. Alice ingin terbang tinggi
dan menghilang bersama Tom. Ingin
merasakan Tom di dalam tubuhnya.
Ingin menggoyang liar batang penis Tom
yang menyodoknya dan meyakini
bahwa suaminyalah pecinta terbaik di dunia ini untuknya. Namun kini Tom
tidur. Alice tak bisa menyalahkannya.
Mereka hanya tidur sebentar-sebentar
saja semenjak sampai di sini dan gelora
seks Alice telah membuat suaminya
kewalahan. Dia biarkan kepala suaminya terkulai di samping tubuhnya.
Dengan hati-hati dia pindahkan tubuh
Tom yang menindihnya, lalu berdiri. Dia
mainkan kalung rantainya sembari
berjalan mondar-madir dalam kamar
dengan telanjang. Kembali dia rasakan tenggorokannya teramat kering, lalu
mengambil recehan untuk mesin penjual
minuman otomatis. Dapat dia rasakan
sperma Tom masih di dalam tubuhnya
lalu dia kenakan celana dalam warna
emasnya. Dia tak mau madu cinta suaminya sampai menetes saat dia
berjalan di lorong nantinya. Jubah sutera
warna emas kembali dia bungkuskan
pada tubuhnya dan dia kemudian keluar
dari kamarnya. Dia tahu betul betapa
jubahnya tersebut begitu minim. Tentu saja, meskipun kini dia memakai celana
dalam, itu tak banyak membantu juga.
Masih tak mampu dia tepis perasaan
ketelanjangannya. Jubah tersebut
terlihat menggantung pada
payudaranya, memberikan pemandangan yang begitu jelas akan
ukuran serta kekencangan buah dada
tersebut. Belahan samping dari tangan
hingga pinggang juga patut
dipertanyakan, karena selalu
memperlihatkan celana dalamnya setiap kali kakinya melangkah dengan
tergesa menyusuri lorong, meskipun
hanya sekilas lalu. Dia tak memikirkan
tentang apapun lainnya. Matanya
terfokus pada mesin minuman serta
rasa haus yang menyerang tenggorokannya dengan hebat. Udara terasa sedikit lebih dingin di
lorong dan dapat dia rasakan gelenyar
rasa yang dia kenali merayap naik di
paha dan di balik jubahnya. Dia
berpapasan dengan beberapa pria di
lorong, dapat dia lihat mereka melirik ke arahnya saat bersimpangan. Akhirnya
dia sampai ke mesin minuman dan
segera dia masukkan recehannya.
Kaleng teh dinginnya jatuh keluar dan
dengan berhati-hati dia mengambilnya.
Sesuatu menekan pantatnya. Dengan sigap Alice berdiri, siap untuk teriak
pada seseorang yang telah
menyentuhnya. Ternyata sang pria.
Alice melihat bayangan sang pria dari
pantulan pada mesin di depannya. Alice
membeku, begitu terkejut dan tetap terdiam saja seperti perjumpaan-
perjumpaan mereka yang sebelumnya.
Dapat Alice lihat sang pria hanya
memakai celana pendek saja dan dia
sadar kalau yang tengah menekannya
sekarang tak lain dan tak bukan adalah penis ereksi sang pria. Sang pria
menyingkapkan jubah Alice. Alice masih
tetap membeku saat sang pria
mengekspos pantat indahnya. Masih
tetap dia membeku saat tangan sang
pria menekan celana dalamnya. Sebuah jari menyelip ke dalam karet celana
dalamnya dan meluncur melintasi
pinggangnya. Alice harus menghentikan
sang pria… dia harus menghentikannya … pikiran itu terus berulang dalam benaknya. Sang pria
mendorongkan pinggangnya pada Alice,
menekan penis kerasnya tepat di celah
bongkahan pantatnya. Alice masih terus
menghadap ke arah mesin. Tangan sang
pria bergerak naik meninggalkan pinggang Alice dan menekan payudara
terlarangnya dari luar jubah sutera.
Jemari sang pria mulai bermain dengan
tali jubah tersebut. Tiba-tiba saja Alice
ingat suatu hal; dia tak pakai bra. Jika
sang pria membuka jubahnya, payudaranya akan tersuguh bebas di
hadapannya. Itu tak boleh terjadi,
meskipun dapat dia nikmati
sentuhannya itu. Meskipun sejujurnya
dia menyukai ide gila itu. Alice tangkap
tangan sang pria dan menyingkirkannya dari payudaranya. Sang pria
membiarkan Alice menepiskan
tangannya menjauh. Alice merasakan
tangan itu jatuh di samping tubuhnya.
Alice tercekat oleh rasa dingin dari
kaleng minuman. Ternyata tadi sang pria asing menaruh kaleng itu di belahan
payudaranya. Dapat Alice rasakan berat
kaleng minuman itu menekan kalung
rantainya menekan tajam pada
dagingnya.
“Uhh…” rasa dingin itu membuatnya melenguh. Dia rasakan kedua putingnya
segera mengeras oleh sensasi rasa
dinginnya. Sang pria memindahkan
kaleng itu melewati payudara kirinya,
melembabkan jubah suteranya dengan
dinginnya. Setetes air jatuh mengaliri belahan
payudaranya, membuat dadanya
merinding kedinginan lagi dan
menyebabkan dia tersengal. Tubuhnya
masih tetap membeku, tapi hanya
separuhnya disebabkan oleh dinginnya kaleng. Sang pria menaik turunkan
kaleng itu menggesek puting sebelah
kanannya. Alice merasakan
ketaksadaran sama seperti
sebelumnya. Kenapa dia biarkan sang
pria menyentuhnya seperti ini? Kenapa dia jadi begitu terangsang? Dia putuskan
untuk menghentikannya, namun
tubuhnya menolak untuk
mematuhinya … tak ada yang salah dengan sentuhannya …Sang pria berusaha menyelipkan kaleng minuman
itu diantara lipatan jubah, dan mulai
meluncurkannya turun. Perbuatannya
itu menyebabkan jubahnya terbuka,
membuat area dada Alice terekspos
semakin luas. Alice mengamati rantai kalungnya yang mulai terlihat, lalu
bayangan lingkar payudaranya yang
kenyal. Tubuh sang pria kini sepenuhnya
menekan Alice, menghangatkan bagian
belakangnya, sedangkan bagian depan
tubuh Alice terbuka kedinginan. Dapat dia rasakan nafas hangat sang pria
menerpa lehernya kala jubahnya mulai
terbuka. Alice memandang turun pada
belahan dadanya, mencemaskan
keterbukaan payudaranya yang sangat
bisa dinikmati mata sang pria jika dia mengintip dari balik pundaknya. Sang
pria mencium leher Alice. Dan Alicepun
tetap terdiam membeku. Jika sang pria
mencoba untuk membuka jubah Alice
sepenuhnya, Alice akan membiarkan
saja… TIDAK! Dia tangkap tangan sang pria. Tangan itu terasa dingin karena
kaleng minumannya dan daging tubuh
Alice serasa terbakar kala tangan sang
pria menekan tubuhnya. Tak akan dia
perlihatkan payudaranya. Tak akan dia
biarkan sang pria membuka jubahnya dan melihat bagian tubuh terlarangnya
yang hanya boleh untuk mata suaminya
saja! Tangan sang pria kembali ke
pinggang Alice. Alice perhatikan kalau
jubahnya telah terbuka hingga perutnya.
Dia perhatikan kalung rantainya tetap berada diantara payudaranya – terjepit diantara kehangatan belahan dadanya.
Putingnya masih tertutupi. Alice merasa
menang dengan kenyataan tersebut.
Sang pria telah melihat banyak, namun
belum ada bagian yang terlarang. Sang
pria mulai menggoyang. Dia gerakkan penisnya ke tubuh Alice, menggodanya
dengan panjang batang penis serta
gairahnya. Ya ampun … Alice merasakan sebuah gelombang hangat mulai
menyebar di pahanya. Dia ingin
menjauh. Dia ingin lari. Tapi dia tidaklah
sedang bersetubuh, dia tidak sedang
bersetubuh… Dia masih terlindungi oleh celana pendek sang pria dan juga celana
dalamnya. Dia tidak sedang bersetubuh …Namun siraman erotis masih cukup bagi
tubuhnya untuk mendorong ke belakang
secara insting ke batang penis sang pria.
“Ohh!” Alice tersentak kala sang pria menekannya ke arah mesin, membuat
kaleng teh dingin terjatuh. Tangan sang
pria mulai mengelus pinggulnya,
menyingkap jubahnya hingga sebatas
pinggang seiring tekanannya yang
semakin keras. “Wow !” Alice mendengar dua orang pria melewati mereka. Mereka
melihatnya tengah dihentak oleh sang
pria.
“Ya ampun !” seorang wanita lewat. Dia melihatnya tengah digoyang oleh
sang pria.
Orang ketiga bersiul. Dia melihatnya
tengah disodok oleh sang pria. Tangan
sang pria bergerak naik di dalam jubah
Alice. Kulit telanjang pinggangnya telah disentuh. Tak apa-apa … tak masalah … pikir Alice. Masih tidak terlarang … Kenapa? Mengapa? Kenapa aku
membiarkan pria ini melakukannya?
Alice mencoba berasio akan sikap
membiarkannya saat tubuhnya
tergesek pada mesin minuman dengan
pelan. “Mami, mereka sedang apa ?” Alice perhatikan seorang pria kecil dari
sudut matanya.
“Ayo pergi, Donnie! Pergi dari sana !” Sang mami mencoba menarik anaknya
menjauh dari pemandangan seorang
pria asing dengan metodis
menggesekkan penisnya ke celana
dalam Alice. Menjauh dari gambaran
akan tangan sang pria membelai tubuh wanita yang hampir telanjang dengan
pinggang terekspos dan tubuhnya
terhentak ke mesin minuman. Tapi si
pria kecil menepiskan tangan maminya
saat dia menyaksikan tangan sang pria
meraih payudara telanjang Alice dari dalam jubahnya …Alice terhenyak oleh karenanya. Sentuhan tangan sang pria
pada keindahan bulatan kenyal dadanya
adalah titik batasnya. Itu sudah
terlarang. Ataukah itu disebabkan oleh
keberadaan si pria kecil dan maminya?
Alice bergegas pergi melewati mereka semua, tanpa melihat lagi pada sang
pria atau si pria kecil yang melongo. Di
sepanjang jalannya berharap bahwa
sentuhan terlarang sang prialah yang
membuatnya menghentikan semua.
Bukannya kenyataan kalau mereka telah terganggu… *** “Hey, ada apa denganmu ?” Alice menatap pantulan dirinya di cermin saat
dia bicara dibawah nafasnya. Dia baru
saja bangun tidur dan sekarang harus
menghadapi kenyataan dari kejadian
malam sebelumnya. Dia menolak untuk
memikirkan tentang kelengahannya saat sang pria beraksi terhadapnya.
Tom tengah mandi dan kini dia sendirian
di kamar mereka, memikirkan …Dia duduk di ranjang, merasa bersalah
dengan apa yang sudah terjadi kala dia
kembali ke kamarnya. Dia bangunkan
Tom. Sekali lagi dia berusaha untuk
membangunkan penis suaminya yang
lelah. Dia begitu menghendaki untuk segera disetubuhi oleh suaminya. Jika
perlu Alice akan menyetubuh tangan
suaminya saja andaikan suaminya tidak
juga bangun. Tapi Alice tahu kalau dia
tak melepasnya begitu saja. Awalnya,
dia palsukan orgasme bersama Tom. Dia palsukan kenikmatannya, dia palsukan
erangannya, dia palsukan kepuasannya.
Tubuhnya bergetar oleh gairah seksual,
tapi seolah-olah tangan Tom sudah tak
berperasaan. Tak lagi bisa menstimulasi
kulit lembutnya. Bibir Tom tak mampu memadamkan dahaganya yang
membara. Penis kerasnya tak bisa
mengisi kekosongan birahinya. Dia
meminta suaminya untuk
mengambilkan sekaleng teh dingin
untuknya. Tak mungkin dia kembali ke lorong itu lagi. Tom telah kembali,
ekspresi kelelahan mendominasi
wajahnya. Bahkan dia tak menutup
pintu dengan benar dibelakangnya. Dia
rebah ke atas ranjang di samping
isterinya dan dengan segera jatuh terlelap kala isterinya meneguk redakan
dahaganya. *** Alice bangkit, bersiap untuk
mengenakan pakaiannya. Dia ambil
celana dalam berwarna emasnya dan
secara rutin memakainya. Dia amati
tasnya dan keinginan untuk mencari di
dalamnya sirna dengan cepat. Yang dia tahu hanyalah dia merasakan
ketakpastian. Dia pungut jubah dengan
warna senada dari lantai dan
memakainya lalu mengikatnya kencang.
Dia bertanya-tanya apakah setelah Tom
keluar dari kamar mandi nanti, gairah seksnya juga akan segar kembali.
Kelihatannya itu sudah tak masalah lagi.
Dia dudukkan tubuhnya di depan cermin
dan mulai menyisir rambutnya. Segera
saja kilau indahnya kembali lagi. Alice
merasa matanya mencari sesuatu yang lebih lagi dibalik jubahnya … pada kalung rantai yang tergantung nyaman diantara
payudaranya. Pintu kamarnya dibuka … Alice memandang dalam cermin dan
melihat sang pria. Dia tak merasa
terkejut, sama sekali tak merasakan
takut. Sang pria terlihat bimbang,
seakan kemarahan Alice terhadapnya
kemarin malam adalah akhir dari affair kecil mereka. Alice balas menatap sang
pria dari dalam cermin. Dia masih tetap
memakai celana pendek yang sama
dengan kemarin malam. Alice berdiri,
mengenakan jubah dan celana dalam
yang sama seperti yang dia pakai dalam pertemuan terakhir mereka. Jubah
sama yang dia basahi dengan kaleng
minuman. Jubah sutera lembut sama
yang hampir dia lucuti dari tubuh indah
Alice. Alice sadar sang pria telah
menyentuhnya dimana seharusnya tak dia biarkan disentuh seorang pria. Tapi
dia telah membuat batas. Dia berlalu
kala sentuhan sang pria berkembang ke
arah yang tak sepantasnya. Dia berlalu
sebelum sentuhan sang pria menjadi
benar-benar terlarang. Sekali di dalam lift. Satu kali di restoran. Sekali di lorong.
Alice membuka jubahnya. Kain sutera
yang lembut perlahan meluncur
menuruni kulit putihnya. Kalung
rantainya jadi terlihat. Bulatan
payudaranya terbuka di depan mata, bersama dengan puting merah
mudanya yang lembut. Dia tawarkan
payudaranya pada sang pria. Dia
tawarkan padanya sentuhan terlarang.
Sang pria menciumnya, penuh hasrat
dan basah. Dia raba dan remas payudaranya. Alice menangkap
tangannya, tapi kali ini bukan untuk
menepiskannya. Dia bawa telapak
tangan sang pria pada putingnya,
menyusupkannya dalam belahan
dadanya dan memijat dirinya sendiri dengan sentuhan terlarang sang pria. Payudara Alice bergerak mengikuti
cengkeramannya yang sepenuh gairah.
Putingnya melentur dibawah jari sang
pria. Lalu Alice bawa tangan sang pria
ke mulutnya dan menghisap rasanya.
Dia hempaskan tubuh Alice ke ranjang, Tubuh Alice terpantul di atasnya,
payudaranya bergoyang seirama
pantulannya. Alice juga lepaskan celana
dalamnya kala sang pria melepas
celana pendeknya. Ingin Alice teriak
saat sang pria melakukan penetrasi terhadapnya. Ingin dia suarakan
kenikmatan seutuhnya yang dia rasa
saat batang penis sang pria meluncur ke
dalam tubuhnya. Sang pria
menyutubuhinya dengan kasar, liar,
sodokannya menghujam dalam, membawa penisnya menembus ke
bagian tubuh Alice terdalam. Kedua
tubuh mereka terlontar liar naik turun di
atas ranjang. Alice tautkan pahanya
yang terentang lebar melingkari sang
pecintanya. Payudaranya terayun liar, seliar persetubuhan yang mereka
lakukan. Segenap nalar sehat Alice
menguap. Birahinya memegang kendali.
Sekujur tubuhnya tergetar dan
terhempaskan oleh persetubuhan paling
murni yang pernah dia tahu. Alice menginginkan penis sang pria, Alice
membutuhkan ejakulasi sperma sang
pria. Dia ingin menyetubuhi sang pria
lagi dan lagi kala penis menawan milik
sang pria meluncur keluar masuk di
dalam lorong vaginanya. Sepasang mata itu… tatapannya … Alice merasakan birahi sang pria meraih pemenuhannya
dalam tiap gerak persetubuhan yang dia
lakukan. Ranjang itu berderit seirama
ayunan birahi keduanya, terasa begitu
nyaring, senyaring yang
memungkinkan. Penis sang pria mengirimkan rasa sakit padanya,
namun Alice malah semakin keras
menghentakkannya. “Setubuhi aku … setubuhilah…” Alice menjerit pada dirinya sendiri berulang
kali. Jadilah pejantanku, jadilah
pecintaku … Gerakan sang pria semakin intens dan
liar. Dia sadar keberadaan suami Alice di
dalam kamar mandi, dan teramat sadar
jika dia harus menyetubuhinya dengan
cepat dan tepat. Dia fokuskan
perhatiannya pada payudara Alice yang terguncang dan kalung rantainya yang
terlempar di sekitar daging kenyal
tersebut. “Oh… oh… oh…” Alice menngerang tertahan dalam setiap sodokan sang
pria. Jubahnya terjuntai membuka
penuh di samping tubuhnya.
Sang pria melihat kecantikan Alice
seutuhnya. Alice tersenyum oleh
karenanya. Sang pria telah melihat wajahnya, payudaranya, vaginanya … dia telanjang bersama sang pria, pria
yang bukanlah suaminya.. Sang pria
menggeram. Spermanya menyembur
dalam tubuh Alice, menjilati dinding
lorong vagina Alice yang basah. Alice
merasakannya mengalir keluar dari dalam tubuhnya, menggelitik kelentit
serta pahanya. Oohh, spermanya … vaginanya terasa begitu hidup oleh rasa
basah dan lengketnya. Mengalir keluar
dari dalam vaginanya, menuruni
pahanya dan jatuh di atas seprei.
“Usaplah! Oh kumohon, gosoklah !” dia hanya memikirkan kata tersebut,
tapi itu terjawabkan.
Sang pria mengambil selimut dan
menyelipkannya diantara paha Alice.
“Ohh… oohhh…” Kaki Alice menendang tak terkontrol
saat jari sang pria mendorongkan
spermanya masuk ke dalam vaginanya.
Tak ada celana dalam di hadapannya.
Tak ada yang mencegah spermanya.
Sang pria menggesek Alice dengan cepat dan keras. Kalung rantai terlontar
di payudara Alice, pengaitnya sudah
beralih ke depan. Alice menangkap
rantainya dan menyingkirkan dari
payudaranya. Sang pria bergerak naik
ke atas Alice, batang penisnya sudah mengeras lagi. Kalung rantai itu sudah
hilang… sekarang tergantikan oleh batang penis mengkilat milik sang pria.
Batan penis basah tersebut meluncur di
belahan payudaranya. Alice menekan
payudaranya merapat, menjepitkannya
pada batang sang pria yang licin. Tangan
sang pria bergabung dengan tangan Alice dan memijat payudara Alice saat
batang penisnya bergerak
menyetubuhinya. Suara shower berhenti. Sang pria tetap
mengayun. Alice terus menyetubuhinya.
Dia dengar suara suaminya
menyingkapkan tirai. Dia dengar suara
suaminya menggosok gigi. Tapi dia
fokus pada suara basah dari penis sang pria yang tengah menyetubuhi
payudaranya. “Keluarkanlah … Oh, keluarkanlah untukku.. keluarkanlah di atas
tubuhku …” Sperma sang pria menyembur ke
lehernya, meninggalkan jejak berkilau
putih di sepanjang dada Alice. Alice
angkat kepalanya dan mengecap rasa
sperma sang pria yang beberapa
menyembur ke mulutnya. Sang pria bangkit dan memindahkan penisnya ke
bibir Alice. Alice menyambutnya,
menghisap lahap campuran sperma
sang pria dengan madu birahi
vaginanya sendiri dari ujung hingga di
sepanjang batang penis sang pria. Suara pisau cukur listrik suaminya berhenti.
Alice melompat dari ranjang. Sang pria
yang sudah memakai celana pendeknya
dengan cepat menuju ke pintu keluar.
Alice membungkus payudaranya yang
berlumuran sperma dengan jubahnya. Tom muncul, masih ada sisa air menetes
dari tubuhnya. Alice berdiri di hadapan
suaminya.
“Mmmm.” Tom bergumam saat dia cium pengantinnya. Tangannya
bergerak ke tali jubah Alice … Alice memegang tangan suaminya dan
menepiskannya ke samping. Dia
melenggang ke dalam kamar mandi
untuk membersihkan sperma sang pria
dari vagina dan payudaranya. Sebentar
lagi, dia akan pergi mengambil sekaleng teh dingin.

gairah liar ditengah pendakian

Namaku Asep, umurku 30 tahun. Saya
belum menikah alias masih lajang.
Pendidikanku hanya tamat SMP negeri di
desaku di kawasan Puncak, Bogor. Itu
pun sudah 2 kali tidak naik kelas. Saya
tidak mempunyai pekerjaan yang tetap, pernah jadi satpam di sebuah villa,
tetapi sudah berhenti, karena
pekerjaannya yang tidak jelas.
Pekerjaan sebagai satpam, menurut
saya tidak ada tantangannya, setiap hari
hanya jaga terus. Dan gajinya juga tidak seberapa, hanya Rp 250.000,00. Setelah
tidak lagi menjadi satpam, saya bekerja
serabutan. Pernah ikut bapak menjual
sayur di pasar Cipanas, tetapi tidak saya
teruskan. Pernah jadi kuli borongan
bangunan, tetapi karena sepi, saya dikeluarkan. Pernah jadi supir angkot
sebentar lalu dikeluarkan, karena sering
ditilang polisi. Tetapi pekerjaan yang kini
saya jalani sesuai dengan hobby saya.
Saya senang sekali naik gunung. Waktu
masih SMP, seminggu sekali saya bersama teman-teman mendaki gunung
Puteri. Saya sudah hafal sekali akan
jalan di daerah itu. Saya mengerti persis
mana jalan pintas menuju puncak
gunung itu dan mana jalan berkeloknya.
Tempat air terjun pun saya mengerti, ada yang letaknya begitu sepi dan
menarik, atau yang agak ramai di
datangi pengunjung. Akhirnya, saya
bekerja menjadi pemandu di gunung
Puteri. Para tamu menggunakan jasa
saya untuk menemani mereka mendaki gunung, karena mereka mendengar
cerita dari rekan mereka yang pernah
ke puncak gunung Puteri dengan saya.
Dalam sebulan, saya bisa 4 atau 5 kali
mendapat tamu yang minta di antar ke
puncak gunung itu. Setelah, saya mengantar mereka ke tempat menarik
di sekitar gunung itu, mereka selalu
memberi upah yang lumayan, apalagi
kalau tamunya orang asing atau bule,
minimal 100 dollar saya dapatkan dari
mereka untuk sekali pendakian. Saya memang tidak pernah memberi tarif,
karena di lain pihak, saya juga
menikmati perjalanan ini dan saya pun
bisa menyalurkan hobby saya. Biasanya
kami mulai start sekitar pukul 01.00 dini
hari, sampai di puncaknya sekitar pukul 5 pagi. Di sana kami bisa berhenti dan
duduk-duduk untuk menikmati sunrise
yang indah. Bermacam ragam tamu
yang pernah saya antar, untuk mendaki
gunung itu, ada murid-murid SMA,
mahasiswa/i, bahkan tamu asing pun sering pula saya antar ke puncak.
Biasanya setelah menikmati sunrise,
saya mengajak mereka ke air terjun
untuk menikmati dinginnya air itu. Lama
perjalanan ke air terjun dari tempat
kami menikmati sunrise sekitar 1 jam. Memang agak jauh, tetapi amat
menyenangkan. Karena suasana dan
udara seperti ini tidak bisa mereka
alami di kota besar. Sekali waktu pada pertengahan Juni
2009, saya mendapat tamu, yakni dua
orang wanita bule dari Australia yang
meminta saya menemani mereka,
namanya Francesca dan Andrea.
Meskipun bule, mereka lumayan fasih berbahasa Indonesia. Bagi mereka,
bahasa Indonesia termasuk bahasa
yang mudah dipelajari dan itu menjadi
salah satu pelajaran ekstrakulikuler
sewaktu mereka dahulu di Senior High
School (SMA). Dalam rangka mengisi liburan kerja, mereka berencana untuk
camping selama 3 hari 2 malam.
Keberadaan mereka di Indonesia,
khususnya di Jawa Barat ini memang
cepat, karena keterbatasan ijin yang
mereka dapatkan dari pimpinan di mana mereka bekerja. Mereka hanya
diperbolehkan mengambil libur
seminggu oleh pimpinan mereka.
Karena mereka menjunjung tinggi nilai-
nilai kedisiplinan, maka mereka
menggunakan waktu yang sempit ini sebaik-baiknya untuk menikmati
Gunung Puteri. Hari Senin sore sekitar
pukul 3, saya sudah menunggu mereka
di restoran Simpang Raya. Ada sekitar
30 menit saya menunggu mereka, tentu
saja dengan sudah mempersiapkan segala keperluan pribadi untuk camping.
Sedang asyik merokok saya melihat ada
2 turis perempuan dengan tas ranselnya
masing-masing turun dari sebuah mobil
carteran. Saya mendekati mereka lalu
menyapa dengan bahasa Inggris yang amat pas-pasan dan ala kadarnya,
maklum nilai bahasa Inggris saya di
raport kalau tidak 3 atau 4 “Francesca and Andrea? You …” Kemudian mereka menjawab: “Yes, we are Cesca and Dhea. Are you bapak
Asep ?” Menjawab pertanyaan itu, dalam bahasa
Inggris yang ngawur, saya cuma bisa
bilang: “Yes.. I … Asep. Only call me Asep, no bapak. Still young. Ok ?” Mereka tersenyum dan tertawa, lalu
saya terkejut “Oh, anda bapak…oh sorry Asep? Senang berjumpa anda yang
meluangkan waktu untuk kami kemping
dan mendaki gunung Puteri ini. ” Hah…rupanya mereka mengerti bahasa Indonesia dengan logat bule mereka
yang kental. Kami saling berkenalan dan
istirahat sebentar di sekitar simpang
Raya. Dari perkenalan itu, saya tau
mana Francesca, yang dipanggil Cesca.
Dan mana Andrea, yang dipanggil Dhea. Kedua bule ini masih muda, umurnya 24
tahun. Mereka bekerja di tempat yang
sama di bagian keuangan sebuah
perusahaan bir. Cesca dan Dhea adalah
bule yang cantik dan menarik. Hidung
mereka mancung sekali, matanya kebiru-biruan, dan kalau mereka berdiri,
saya hanya sepundaknya saja. Kulit
mereka tidak seperti kebiasaan kulit
orang bule lainnya yang kasar, begitu
lembut dan halus kulit mereka yang
berwarna putih agak kemerahan. Rambut Cesca agak lebih panjang
daripada Dhea, warnanya pirang,
sedangkan rambut Dhea agak merah.
Yang menarik juga pada diri mereka
adalah payudaranya yang lumayan
montok. Karena kaos yang mereka kenakan agak rendah, beberapa kali
saya bisa melihat belahan dadanya
yang ranum itu. Tampak payudara itu
bergerak-gerak di balik kaos yang
mereka pakai. Sebelum beranjak dari tempat itu
menuju tempat kemping yang
memakan waktu 1,5 jam
perjalanan dengan menyewa
angkot, kedua cewek bule itu
mengajak saya makan. Akhirnya mereka memutuskan untuk
makan sate kambing. Kami
memesan 3 porsi sate kambing
dan makan bersama di tempat itu,
bedanya kalau saya
memakannya dengan nasi, mereka tanpa nasi. Tampak ceria
sekali mereka berdua, terkadang
mereka bercanda dalam bahasa
Inggris, sehingga saya tidak
mengerti apa yang mereka
perbincangkan. Yang saya lihat, bila Cesca mengambil sate itu dan
memasukkannya ke dalam mulut,
Dhea menggodanya, seolah mau
merebut sate itu. Dan bila Dhea
akan menggigit sate itu, maka
Cesca akan menahan tangan Dhea, sehingga Dhea agak
terhambat memasukkan sate itu
ke dalam mulutnya. Melihat
mereka yang sedang bercanda,
saya hanya bisa senyum-senyum
saja, dan mereka juga ikut tersenyum. Saya yang tidak
mengerti akan apa yang menjadi
bahan bercanda mereka,
sepertinya menangkap kalau
mereka sedang bercanda yang
jorok alias porno. Mungkin mereka membayangkan, bahwa
sate yang mereka pegang dan
masukkan ke dalam mulut itu ibarat
kemaluan pria. “Ah dasar bule ”, saya hanya bergumam di dalam hati. Setelah acara makan selesai, Cesca mau
mengambil sesuatu dari tas ranselnya,
otomatis dia membungkukkan
badannya. Pada saat itu, tanpa
disengaja, saya melihat gumpalan
payudara Cesca yang putih montok itu. Sesaat saja, saya melihat pemandangan
itu. Untungnya Andrea sedang ke wc,
sehingga saya dengan leluasa melihat
pemandangan indah itu tanpa ragu.
Kemudian Cesca mengeluarkan
sebungkus rokok dari ranselnya itu. Sebagai ungkapan ramah, saya
menyodorkan korek api kepadanya dan
setelah rokok itu menyala, kelihatan
sekali Cesca menikmati rokok itu.
Setelah Dhea kembali dari WC, ia pun
ikut merokok. Rupanya Dhea lah yang membayari makan sore kami itu.
Setelah dirasa cukup istirahat, kami
akhirnya memutuskan untuk berangkat
ke tempat kemping. Sekitar pk 5 sore,
kami meninggalkan Simpang Raya
menuju tempat kemping yang jaraknya sekitar 1,5 jam perjalanan. Cuaca sore
hari itu cerah, dan tepat pk 6.30 sore,
kami sudah tiba di tempat itu. Tempat
kemping kami begitu sunyi dan sepi,
jauh sekali dari rumah penduduk, hanya
ada suara air dan binatang. Tempat ini, sepertinya sudah menjadi tempat
khusus bagi saya untuk kemping.
Masing-masing pemandu di sini sudah
saling mengerti akan tempatnya
masing-masing, sehingga tidak main
serobot saja. Di tempat itu kami membuat 2 kemah, 1 kemah kecil yang
cukup untuk saya pribadi, dan 1 kemah
yang agak besar untuk Cesca dan Dhea.
Setelah selesai mendirikan 2 kemah,
Cesca dan Dhea hendak mandi di sungai.
Letak sungai itu tidak begitu jauh, hanya sekitar 50 m saja. Saya tidak berniat
mandi malam itu, karena td sudah
mandi di rumah sebelum menjemput
mereka. Sementara mereka mandi,
saya mengumpulkan beberapa batang
kayu kering yang ada disekitar sana untuk membuat perapian. Hal ini saya
lakukan supaya ada kehangatan di
tengah udara dingin ini, dan membuat
keadaan di sekitar menjadi agak terang. 30 menit kemudian Cesca dan Dhea
kembali dari mandinya di sungai,
mereka tampak segar. Memang cantik
kedua cewek bule ini dan seksi, gumam
saya dalam hati. Mereka kini
mengenakan hotpans yang memperlihatkan paha mereka yang
montok dan mulus. Saya juga
menyaksikan di balik kaos yang mereka
kenakan, tampak tonjolan sepasang
puting payudara mereka, yang
kelihatannya tidak dibungkus oleh bra. Sexy sekali mereka malam ini. Di tempat
kemping itu, kami ngobrol untuk
rencana kegiatan selanjutnya. Suasana
menjadi nyaman dan kami bisa saling
berkomunikasi. Saya pun bilang kepada
mereka, bahwa mereka adalah turis yang paling cantik yang pernah saya
temani, dan juga mengatakan bahwa
mereka sexy sekali. Mendengar
pengakuan saya, mereka tertawa
penuh bangga dan berterima kasih atas
pujian itu. Mereka terkadang menggunakan bahasa Inggris saat
bercanda, yang sepertinya
merahasiakan sesuatu kepada saya.
Dari perbincangan kami malam itu,
mereka memutuskan hendak
menikmati sunrise dari puncak gunung. Akhirnya kami sepakatmaka untuk
berangkat dari tempat kemah sekitar
pukul 1 pagi. Saya mempersilahkan
mereka membawa barang secukupnya
supaya tidak repot di jalan, tentu saja
uang dan barang berharga mereka harus dibawa, sedangkan yang lain
dapat ditinggalkan di dalam tenda. Saya
menjamin, semuanya akan aman.
Mereka menyetujui usul saya. Setelah
menjelaskan rute perjalanan dan
tempat-tempat yang akan dilewati, mereka bertanya tentang air terjun
yang indah itu. Saya pun
menjelaskannya dalam bahasa
Indonesia. Begitu antusias Cesca dan
Dhea, mendengar penjelasan saya,
khususnya mengenai air terjun itu yang airnya bukan saja menyegarkan tubuh,
tetapi juga bisa dipercaya membuat
awet muda. Rupanya ke dua cewek bule
yang cantik dan seksi ini mau awet
muda juga. Setelah menjelaskan itu
semua, saya menyarankan untuk istirahat. Waktu saat itu sudah
menunjukkan pk 10.00 malam, berarti
masih ada waktu sekitar 3 jam untuk
istirahat. Cesca dan Dhea menyetujui hal
itu, dan malam itu mereka istirahat.
Saya masih di depan tenda, memikirkan rencana perjalanan besok. Sedang enak-
enaknya berpikir sambil merokok, saya
bisa melihat apa yang di lakukan Cesca
dan Dhea di dalam tenda itu. Jelas
kelihatan dari tempat duduk saya, bila
memandang ke tenda yang mereka tempati dengan hanya di terangi lampu
kecil di dalamnya, Cesca dan Dhea
melepaskan kaosnya masing-masing.
Jelas sekali siluet tubuh mereka dengan
tonjolan payudaranya yang indah
membayang seolah menembus tenda itu. Betapa cantik dan molek ke dua
cewek bule itu. Pemandangan itu tentu saja membuat
saya terangsang. Tetapi, saya tidak
berani bertindak sembarangan. Saya
pun akhirnya masuk ketenda untuk
istirahat, supaya tubuh ini tetap sehat
saat perjalanan sebentar pagi. Sekitar pk 00.30 lewat, saya keluar tenda
dengan baju yang tebal dan berlapis-
lapis untuk mengusir hawa dingin, lalu
membereskan barang-barang yang
nanti akan saya bawa. Saya menunggu
mereka di luar tenda. Sekitar 20 menit menunggu akhirnya Cesca dan Dhea
keluar dari tendanya, rupanya mereka
sudah menggenakan kaos yang
semalam mereka pakai, tetapi masih
mengenakan hotpansnya. Setelah
memakai sepatu, mereka mengenakan jaket mereka masing-masing. Melihat
hal itu, saya berpikir dalam hati dan
menilai bahwa mereka cukup nekad
berhadapan dengan hawa dingin,
bukannya pakai celana panjang, tetapi
pakai celana hotpans yang bahannya dari kaos. Mungkin mereka sudah biasa
di hawa dingin, sehingga tahan dengan
hawa seperti ini. Setelah dirasa siap
semua, kami pun berangkat. Dalam
perjalanan, yang saya perhatikan,
mereka saling becanda dan menggoda. Terkadang mereka saling menyentuh
anggota tubuh mereka masing-masing,
bahkan saya melihat kalau Dhea dengan
nakalnya meremas payudara Cesca.
Tindakan itu, terkadang membuat saya
risih, apalagi saat Cesca mau membalas ke Dhea. Dhea seolah menjauh dan
berlindung di balik tubuh saya,
akibatnya saya dijepit dua arah oleh
kedua cewek bule itu. Terkadang lengan
saya, tanpa saya kehendaki,
bersentuhan dengan payudara Cesca dan Dhea yang ranum itu. Begitu empuk
payudara itu, saya pun jadi terangsang
dengan tingkah becanda mereka yang
memberi keuntungan pada saya.
Mereka tampil seperti anak kecil yang
sedang bercanda, dan sayalah yang menikmati enaknya. Dalam perjalanan
itu, hawa dingin dan sepi menyelimuti
kami. Bagi saya yang mengenakan baju
hangat, tidak begitu terganggu dengan
hawa dingin ini, begitu pula Cesca dan
Dhea, karena mereka terus bercanda, sehingga mereka merasa hangat. Tak
terasa, akhirnya kami sampai di puncak
gunung, langit mulai terang. Tak
beberapa lama kemudian, kami
menikmati terbitnya matahari perlahan
demi perlahan. Saya duduk di atas sebuah batu sambil menikmati
keceriaan mereka. Tak henti-hentinya
mereka mengabadikan terbitnya
matahari dengan kameranya. Silih
berganti pula, mereka saling foto,
sampai akhirnya saya pun diajak untuk berfoto bersama dengan mereka. Saya
merasakan, inilah pengalaman yang
paling indah dan menyenangkan selama
saya menemani tamu. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan
pukul 7 pagi, dan kami memutuskan
untuk menuju air terjun. Perjalanan
menuju air terjun, kami tempuh sekitar 1
jam lebih. Hawa dingin yang baru saja
kami alami, kini sudah berganti dengan teriknya sinar matahari. Karena hawa
sudah mulai hangat, saya melepas baju
dingin dan jaket lalu memasukkannya
ke dalam tas ransel. Cesca dan Dhea pun
melakukan yang sama, mereka
melepaskan jaketnya. Kembali pemandangan yang semalam saya lihat,
muncul lagi pada pagi ini. Sekali-sekali
saya melirik tubuh mereka yang
terbuka, yakni paha dan belahan dada
mereka. Saya bisa menerka, kalau
mereka saat ini tidak menggenakan bra. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan
mereka dengan berpergian tanpa bra.
Untung saja, jalan yang kami lalui sepi
sekali. Selama dalam perjalanan, kami
tidak berjumpa dengan orang lain. Kini
saya bisa membayangkan betapa padatnya tubuh mereka berdua, dengan
payudara yang montok, dan paha yang
mulus. Keringat yang keluar dari ubun-
ubun kepala mereka mengalir melewati
pipi, menambah betapa seksinya
mereka saat itu. Beberapa kali saya melihat Cesca dan Dhea mengelap
keringat di kening mereka dengan
mengenakan ujung kaos mereka.
Akibatnya, beberapa kali pula saya
melihat tubuh ramping mereka yang
begitu putih saat mereka mengelap keringat di dahinya dengan ujung kaos
itu. Bahkan, saya bisa melihat payudara
Cesca yang putingnya berwarna
kemerahan saat ia mengusap keringat
di dahinya. Mereka pun tetap becanda
penuh gembira dihadapan saya, becanda yang membangunkan
kelelakian saya. Bayangkan saja, Cesca
dengan begitu nakalnya membantu
Dhea mengusap dahinya yang
berkeringat dengan mengangkat ujung
kaos Dhea tinggi-tinggi sehingga payudara Dhea yang sekal dan berisi
tanpa ditutup bh, kelihatan jelas di
hadapan saya. Betapa putingnya itu,
menantang untuk dihisap. Dhea yang
diperlakukan spt itu, bersijap cuek saja.
Bahkan, Dhea membalas perlakuan Cesca itu dengan juga mengangkat
ujung kaos itu, dan mengusap wajah
Cesca. Itulah becandanya cewek bule
yang sangat sensasional, seolah
membangkitkan nafsu saya.
Sesampainya di air terjun itu, suasana begitu sepi, hanya kami bertiga yang
ada di sana. Sejuk sekali air itu, sehingga
saya ingin mandi di sana. Tetapi saya
sadar, lalu berpikir untuk menunda
mandi. Lebih baik, saya menunggu
keinginan tamu saya itu. Rupanya Cesca dab Dhea sudah melepas sepatu
mereka, dan meletakkannya di atas
bebatuan. Mereka sedang asyik main
siram-siraman air. Terkadang kenakalan
mereka keluar dengan menyiram tubuh
saya dengan air. Karena suasana sudah akrab, saya meletakkan ransel saya dan
melepas sepatu gunung saya dan ikut
dalam keriangan mereka. Saya
membalas perlakuan mereka yang
menyiram saya dengan perlakuan yang
sama. Baju kami masing menjadi basah. Dan akhirnya, suatu pemandangan yang
indah sekali ada di hadapan saya. Saya begitu terkejut, ketika Cesca dan
Dhea melepaskan kaosnya masing-
masing. Kini di hadapan saya,
terpampanglah dua tubuh sexy yang
luar biasa indahnya, telanjang dada.
Betapa indah, putih dan mulusnya tubuh kedua wanita bule itu dengan sepasang
payudaranya yang montok, ranum dan
indah itu. Tidak ada sedikit pun rasa
malu yang saya lihat pada wajah
mereka. Bahkan lebih gila lagi, tiba-tiba
Cesca menurunkan celana hotpans Dhea, bersamaan dengan cdnya. Begitu
pula sebaliknya, Dhea menurunkan
celana hotpant Cesca dan
meloloskannya lewat kaki indah itu.
Luar biasa pemandangan indah yang
saya saksikan di tempat itu. Tubuh Cesca dan Dhea, bugil polos tanpa tertutup
benang sehelaipun terlihat bebas di
hadapan saya. Sepasang tubuh yang
mulus, tubuh wanita bule dalam
keadaan telanjang bulat. Tidak ada rasa
malu atau risih dari mereka, justru saya yang terbengong menatap tubuh bugil
mereka. Bahkan, dengan menggunakan
bahasa Indonesia yang sudah dikuasai,
mereka mengajak saya untuk terlibat
dalam keriangan itu sambil mandi
bersama. Dengan berlagak malu, kulepaskan kaos dan celana panjangku.
Meskipun aku paham sekali kalau jam
segini, lokasi ini pasti sepi, aku tetap
tidak berani membuka cd ku, penutup
terahir yang menempel menutup
penisku. Saya mengagumi keberanian kedua cewek bule ini yang sangat
berani tampil bugil. Perlahan-lahan saya
dekati mereka, dan mereka menyambut
ke datangan saya dengan tepuk tangan.
Nikmat rasanya mandi bersama ke dua
wanita bule yang sudah bugil itu. Tiba- tiba aku terkejut dan bingung juga
ketika Cesca memasukkan tangannya
yang lembut ke dalam cdku dan
meremas batang penisku yang sudah
menegang. Dari beberapa wanita yang
pernah main sama aku, mereka selalu mengatakan kalau penisku ini besar dan
panjang. Mereka sangat puas
bersetubuh denganku. Misalkan saja ce
Maya, istri simpanan juragan angkot
yang bahenol itu yang pernah
mengajakku main gila, begitu nafsu sekali saat aku setubuhi. Ce Maya
memuji keperkasaan penisku yang
mendatangkan kenikmatan itu. Gilanya
lagi, perlakuan Cesca padaku, membuat
saya menikmati remasan jemarinya
yang lentik di penisku. Saya pun membalasnya dengan meremas
payudara Cesca dan memainkan
putingnya. Dia diam saja dan
membiarkan tubuh telanjangnya yang
indah itu diraba dan diremas oleh
tangan saya. Dhea yang berada dekat dengan kami, tidak tinggal diam, dia pun
dengan menempelkan payudaranya
yang sekal dan bening itu, menarik
turun cd yang saya pakai sampai lepas
dari tubuh saya. Akhirnya, kini kami
bertiga telanjang bulat, bugil polos. Aku kagum akan tubuh Cesca dan Dhea yang
putih mulus, payudara yang
mengantung indah dihiasi putingnya
yang menawan, dan vagina yang
menantang dengan dihiasi bulu
kemaluan yang juga pirang itu. Sungguh suatu pemandangan indah yang
menarik untuk disantap, sudah tersedia
di hadapanku. Rupanya mereka kagum
dengan batang penisku yang sudah
membengkak itu, begitu kencang, besar
dan panjang. Tak henti-hentinya mereka meremas
penisku yang sudah tegang itu dan
mengelus biji pelirku. Aku pun
membalas perlakuan mereka dengan
melingkarkan tanganku pada pundak
mereka dan mencomot payudara mereka serta meremasnya lembut.
Memang kontras sekali antara tubuh
mereka yang begitu halus, indah, bening
bagai pualam, dibandingkan dengan
tubuhku yang kurus, kasar dan hitam ini.
Kalau di film bokep, ibarat bule dan negro. Kuraba tubuh ke dua wanita bule
itu, tanganku meliar menyusuri lekukan
tubuh indah itu. Ketika Cesca
menciumku, kubalas ciuman itu dengan
nafsu yang menggelora. Kuremas
bongkahan pantat Cesca yang empuk itu, kupeluk dia begitu rapat dan kucium
bibirnya dengan penuh nafsu. Tubuhku
dan Cesca berhimpitan saling
berhadapan. Dhea pun tidak mau kalah,
dia merapatkan tubuh bugilnya yang
mulus itu dan memelukku dari belakang. Hangat sekali diriku dihimpit oleh kedua
tubuh telanjang cewek bule yang cantik
itu. Silih berganti Cesca dan Dhea
meremas-remas penisku. Ciumanku pun
beralih, bukan saja ke bibir Cesca, tetapi
juga ke mulut Dhea. Cesca lalu merendahkan tubuhnya, dan oogghhh … dia menciumi dan menggelitik batang
penisku dengan lidahnya. Nikmat sekali
emutan mulut Cesca mempermainkan
penisku di dalam mulutnya itu.
Sedotannya yang liar membuat aku
mengelinjang penuh nikmat. Aku pun tidak tinggal diam, kini payudara Dhea
menjadi sasaran mulutuku. Kuciumi
sepasang payudara indah itu, kujilati
kulitnya yang putih bersih dan kusedot
pentilnya yang sudah menegang itu … eeegggssshhhh… Dhea mulai melenguh penuh nikmat. Lenguhan Dhea berubah
menjadi keras, ketika jemari tanganku
mulai mengerjai vaginanya yang dihiasi
bulu-bulu halus itu. Kusentuh vagina
Dhea dan kumasukkan jari tengahku,
mengobok liang vaginanya, sambil mulutku menyedot puting susunya. Dia
melenguh hebat dengan mendongakkan
kepalanya dan membuka mulutnya “Eeeesssshhh…ooouuugghhhh… aahhhsss!!” erangnya Kukerjai habis tubuh Dhea yang indah
itu, sampai dia orgasme dengan
jemariku di liang vaginanya. Tubuh Dhea
melemas dalam pelukanku, dan dia
kembali menciumku dan memelukku
sebagai ungkapan terima kasih atas kepuasan yang sudah dia dapatkan
dariku. Setelah itu, Dhea berbaring,
memposisikan tubuh bugilnya di atas
batu itu, tampak kakinya terjuntai ke
bawah bersentuhan dengan air. Sementara itu, Cesca masih terus
mengulum batang penisku yang hitam
itu. Nikmat tak terkira kurasakan saat ia
dengan begitu nafsu menyedot penisku
yang disunat dan lidahnya menjilati
lubang pipisku. Aku mengerang penuh nikmat, dan kuiringi permainan liar
Cesca dengan menggenjot penisku
masuk lebih dalam lagi ke dalam
mulutnya sampai menyentu
tenggorokkannya. Luar biasa sepongan
Cesca, penisku mulai berkedut-kedut menandakan ada sesuatu yang mau
keluar. Kupegang kepala Cesca dan
kutekan penisku di dalam mulutnya
dan….aahhhggsss…crrooottt… crrrooooottttt. Kutembak mulutnya
dengan cairan spermaku. Cesca pun
menerimanya dengan sepenuh hati dan
menelan habis spermaku. Ah betapa
nikmatnya hidup ini, bila bisa begini
terus, apalagi dengan wanita cantik. Badanku pun mulai melemas, dan terus
kuperhatikan tindakan Cesca yang
masih menjilati kepala penisku,
nampaknya dia sedang membersihkan
sisa-sisa spermaku dengan lidahnya.
Aku pun tersenyum puas padanya, kuangkat tubuh Cesca, kupeluk tubuh
bugil itu dan kucium dia. Dia pun
memelukku dengan melingkarkan
tangan dipinggangku dan membuka
mulutnya, supaya kami dapat
berciuman dengan begitu mesra. Sambil berciuman mesra, kuelus bibir
vaginanya, kumainkan jari tanganku di
sana. “Eeessshhh….” Cesca mengerang penuh nafsu Lalu kumasukkan pelan-pelan jemariku
ke liang senggamanya. Jemariku yang
kasar seperti terjepit daging yang penuh
kenikmatan. Kumainkan jariku di dalam
vaginanya dan kusentuh lembut
klitorisnya “eeeggghhhsssss… agghhhh!” erangan penuh kenikmatan kembali
terdengar. Kukocok vaginanya dengan jariku, dan
tidak lama
kemudian ….eeesssshhh….aaaa… ggghhh…eeehhhm. Kurasakan jemari tanganku menjadi basah, karena
disemprot oleh cairan nikmat yang
keluar dari vagina Cesca. Kucium dia
dengan begitu mesra, keremas
payudaranya yang montok dengan
jemariku yang basah karena cairan nikmatnya dan kueluskan ke
payudaranya yang montok. Kuremas
payudaranya yang sebelah kanan
dengan penuh perasaan dan kujilati
terus puting susu sebelah kirinya yang
merekah itu. Cesca diliputi kepuasan yang indah saat itu. Badannya mulai
lemas dan bersender di bebatuan itu.
Cesca mengangkat tangannya dan
memberi acungan jempol, dan
memerlihatkannya ke Dhea. Dhea pun
sama, ia pun mengacungkan jempolnya. Mereka memuji pelayananku yang
mampu memberi kepuasan pada
mereka, terutama atas rangsanganku
pada payudara dan vagina mereka. Setelah dirasa cukup istirahat, Cesca dan
Dhea melanjuntukan mandinya.
Sedangkan aku istirahat sebentar
dengan merokok. Sedang enak-enaknya
merokok, saya melihat sekelebatan dari
balik semak, ada bayangan seseorang. Cepat-cepat kuambil celana panjangku
dan mengenakannya. Lalu saya berjalan
ke tempat yang mencurigakan itu.
Kubiarkan Cesca dan Dhea meneruskan
mandinya sambil telanjang bulat di alam
terbuka ini. Ketika aku sampai, ke arah yang mencurigakan itu, akhirnya saya
memergoki seorang bapak yang sudah
lama saya kenal. Namanya mang Kabir
yang usianya sekitar 50 tahunan, yang
sering mencari kayu kering untuk
memasak atau dijual sebagai api unggun. Rupanya mang Kabir sudah
lama mengintip kami. “Maaf Sep, tadi mamang mau cari kayu kering, lalu mamang ngelihat
pemandangan tadi. Mamang jadi pengen
ikut nih! Kan ceweknya ada dua. Jangan
di sikat semua dong ” demikian kata mang Kabir. “Hehehe si mamang ini bisa aja. Iya tuh, ceweknya juga nafsu banget.
Kelihatannya habis ini, saya bisa ngewe
sama mereka lagi. Mau ikut mang? Ayo
deh telanjang” kataku kepadanya. “Iya dong, mamang udah kepengen dari tadi….duh anak kasep. Terima kasih yah Sep ” kata mang Kabir sambil melepaskan pakaiannya sampai bugil. Tampak tubuh mang Kabir yang kurus
kering, dekil dan hitam legam, dengan
kepala yang hampir botak dan ubanan,
namun penis yang mengantung di
selangkangannya. Lumayan besar penis
hitam yang berurat itu, pasti bisa memberi kenikmatan untuk kedua
cewek bule itu. Saya pun melepas
celana panjang saya, dan bugil. “Wah…kontolmu gede juga Sep. Yuk dah kita entot tuh bule. Sana kamu jalan
dulu ngenalin aku ”. Kami berjalan mendekati Cesca dan
Dhea, mereka terkejut melihat saya
yang datang membawa mang Kabir
dalam keadaan telanjang juga. Akhirnya
mereka berdua menerima kehadiran
mang Kabir setelah mendengar penjelasanku. Lalu kedua cewek bule itu
bersalaman dengannya. Tampak Cesca
mulai berbisik ke Dhea, dan mereka pun
tersenyum. Tiba-tiba …. Dhea memegang dan meremas penis mang Kabir. “Wooiii Sep, nih cewek pegang kontol mamang. Heheheehe enak euuyy,
mantap!” sahut Mang Kabir Dhea terkagum-kagum akan penis besar
mang Kabir, lalu diciumnya penis itu dan
dimasukkannya ke dalam mulut Dhea.
Mang Kabir tampak melonjakkan
tubuhnya, saat penis hitam bersunat itu
dicium dan disedot oleh mulut Dhea. Dhea yang cantik dan menawan itu
seolah berubah menjadi wanita liar
yang haus akan penis keras mang Kabir. Sedang enak-enaknya menonton
kegiatan Dhea dan mang Kabir, Cesca
memeluk saya dari belakang dan
meremas penis saya yang sudah tegang
itu. Tubuhnya yang indah dengan
payudaranya yang montok bersentuhan menyentuh punggung saya. Betapa
nikmatnya dipeluk dari belakang oleh
wanita bule ini. Kubalikkan tubuhku dan
kupeluk erat tubuh putihnya, kami
kembali ciuman dengan sangat
bergairah, lidah kami saling belit satu sama lain. Kami lalu beranjak sedikit ke
tempat dimana tadi Cesca berbaring. Di
atas batu yang agak besar itu Cesca
berbaring, lalu membentangkan
pahanya lebar-lebar memperlihatkan
liang senggamanya. Tanpa malu-malu, Cesca memamerkan vaginanya yang
indah merekah kepada saya. Tadinya
saya mau langsung membenamkan
penis saya ke liang vaginanya, tetapi
saya mengurungkan dahulu niat itu.
Saya ingin terlebih dahulu menikmati vagina yang menggiurkan itu dan
merangsangnya dahulu. Kuciumi vagina
itu dengan lembut, dan kujilati bibir
vaginanya. “Eehhh…eshhh…aaaggghh” Cesca mulai mengerang ketika lidahku
menciumi vaginanya, apalagi saat
lidahku bermain di dalam liang vagina
itu. Lidahku bergerak liar dan menyentil
itilnya. Kusikat habis vagina itu dengan
mulut dan lidahku. Luar biasa nikmatnya
vagina itu, rupanya masih sempit
liangnya. Setelah puas menikmati
vagina itu, saya pun berdiri dan memandang wajah Cesca yang
meredupkan matanya dan berkata lirih “Sep, fuck me pleaseeee !” Itulah ungkapan mesra yang diliputi birahi luar
biasa yang keluar dari mulut cewek bule
itu. “Ok Cesca, I fuck you.. ” Aku kemudian berdiri, kupegang
penisku yang sudah kencang itu dan
kurahkan ke liang vagina Cesca.
Kutempelkan kepala penisku di bibir
vaginanya, dan pelan-pelan
kumasukkan batang penisku ke dalam vaginanya. “Eeesssshhhha….oh my God, uuuhh !!” Cesca merintih penuh nikmat ketika
kepala penisku yang besar membelah
bibir vaginanya dan mulai masuk
perlahan-lahan, “Ooouugghh slow …ly … Pee…llaannn Sseeeppphhh…. Eeeghh” rintihnya menahan ngilu. Wah luar biasa sempitnya vagina Cesca,
baru masuk sepertiganya saja, sudah
terasa. Begitu nikmat remasan liang
vagina Cesca, membungkus batang
penisku. Kutekan sedikit demi sedikit,
sehingga penisku mulai masuk perlahan-lahan. “Ooouugghhh…Asepphhh …push!!” Cesca kembali mengerang penuh birahi
ketika penisku mulai masuk perlahan. Dan….blleessss, masuklah seluruh penisku sepenuhnya, mentok, ke dalam
vagina Cesca. Cesca mengerang lebih
panjang dengan tubuh menggeliat
ketika akhirnya seluruh penisku yang
besar bersatu di dalam liang vagina
sempit. Aahhhh, aku pun mulai mendesih. Kunikmati proses masuknya
penisku ke dalam liang vaginanya. Luar
biasa nikmat dan hangat vagina Cesca.
Pelan-pelan kutarik penisku dan
kutekan lagi perlahan-lahan. “Eegghhh…ahhhh..eeeessshhh” Cesca mengerang penuh nikmat. Gerakanku yang awalnya pelan, makin
lama makin kencang dan keras.
Kurasakan betapa sempitnya vagina
Cesca yang begitu kuat meremas
penisku yang besar dan panjang, tetapi
ini semakin membuat kami tambah nikmat dalam persetubuhan itu.
Kupompa vagina itu dengan desakan
memaju-mundurkan penisku yang besar
di dalam vaginanya. Dengan bertambah
cepatnya saya mengenjot vagina itu,
tambah kencang pula Cesca mengerang menikmati persetubuhan ini. Erangan itu
mengungkapan perasaan puas yang
ada di dalam diri Cesca. Rupanya Cesca
sudah tidak kuat lagi, karena terus
digenjot akhirnya ia melesakkan
tubuhnya ke atas, memejamkan matanya hingga akhirnya “I’m coming…oooohh….eehhhh!!” ia mendesah panjang mencapai puncak Nampaknya ia sudah keluar duluan.
Kurasakan tubuhnya yang mulai
melemas, berbaring di atas bebatuan
yang dialiri air. Kubenamkan dalam-
dalam penisku mengorek vaginanya.
Terukir senyuman puas di bibirnya. “Ohh yesss Asep. Luar biasa !” Cesca memujiku. Kulumat bibir itu dan kuciumi dengan
penuh nafsu. Sementara itu, tidak jauh
dari tempatku, di daerah air dangkal,
saya melihat mang Kabir yang sedang
menggenjot vagina Dhea dengan
penisnya. Kontras sekali pemandangan yang kulihat, sama dengan
pemandangan dimana aku menggenjot
Cesca. Mang Kabir rupanya tidak mau
melepaskan kesempatan emasnya itu,
sambil memegang betis Dhea,
dibentangkannya selangkangan Dhea dan dipompanya vagina Dhea yang juga
masih sempit itu dengan penuh nafsu.
Hal itu membuat Dhea terengah-engah
dan mendesis dilanda birahi yang amat
nikmat. Tua-tua gitu, Mang Kabir
ternyata masih sanggup membuat wanita seperti Dhea menggelinjang
nikmat. Sambil menggenjot kulihat si
pencari kayu tua itu tangannya tidak
pernah lepas dari payudara montok
cewek bule itu. Mulut Dhea menceracau
tidak karuan dalam bahasa Inggris. “Fuck me …aaahh…fuck me harder … you dirty old man, eeeennggghh !” Kini kuminta Cesca untuk berdiri dan
memintanya menungging, dia mengikuti
perintahku. Lalu kuarahkan penisku ke
liang vaginanya …dan bleesss, masuklah penisku menembus bibir vaginanya
sampai mentok. Kembali rintihan Cesca
terdengar saat saya memajukan dan
menekan penis saya dalam-dalam ke
liang vaginanya. Kepalanya mendongak
ke atas saat penis saya tertanam sepenuhnya di dalam kemaluannya. Kugerakan dan kupacu erat-erat
penisku yang besar menerobos
vaginanya, sambil sesekali kuremas
pantatnya yang seksi itu. Saat aku
memutar pantat, Cesca mengerang
penuh nikmat. Di satu pihak, aku merasa penisku seperti diremas-remas di dalam
rongga senggamanya. Di lain pihak
Cesca merasa, vaginanya yang masih
rapat itu diobrak-abrik oleh penisku
yang besar. Sungguh perpaduan yang
luar biasa menimbulkan kenikmatan pada kelamin kami masing-masing.
Setelah berkali-kali memompa vagina
Cesca dengan penisku, saya merasakan
sudah sampai waktunya menembakkan
spermaku, kupercepat enjotan penisku
dan kutekan sedalam mungkin penisku sampai mentok menyentuh dinding
rahimnya. Sambil kuremas payudaranya
yang montok itu dan ….eesshhh croott crrooott crrrooottt, kulepaskan cairan
spermaku yang pasti kental dan banyak
itu memenuhi liang vaginanya. Dan pada
saat yang sama, kurasakan Cesca juga
mencapai orgasmenya … eehhh..aagghhhh… Ada sekitar 6 kali muncratan spermaku di dalam vagina
cewek bule itu. Kami diam sejenak,
menikmati dahsyatnya persetubuhan
antar ras ini. Luar biasa nikmat
bersetubuh di alam terbuka ini. Tidak
jauh dari tempat kami, kulihat juga mang Kabir sedang berdogie-style ria
dengan Dhea, pria tua itu menghela
pantatnya dengan cepat sehingga
seluruh penisnya yang besar dan hitam
itu tertelan di dalam rongga vagina Dhea “Aaahhh ma ….mang ke …lluuaaarrr nneeennngg…ahhh.” Dhea mendesah nikmat tak lama kemudian. Crooott…crrootttt…..croooottt. Mang Kabir melepaskan spermanya di dalam
liang vagina dara Australia itu. Hal itu
membuat Dhea kembali sampai pada
orgasme untuk yang ke sekian kalinya,
mulutnya terbuka lebar, matanya
terpejam. Pak Kabir mengangkat tubuh Dhea hingga posisinya berlutut
membelakanginya. Tangan Dhea
melingkari leher Pak Kabir, ia
menengokkan wajahnya ke belakang
dan langsung disambut Pak Kabir
dengan melumat bibirnya. “Eeeaaahhh…mmmm…I…am….cooo… mmiiinnggg. Eshhh.” Dhea mendesah tertahan di tengah percumbuannya
dengan Mang Kabir. Mereka pun sudah sampai pada
klimaksnya. Kini tampak di hadapan
saya, Dhea sedang berpelukan mesra
dengan mang Kabir dan saling beciuman
penuh nafsu, penis mang Kabir masih
terbenam utuh di dalam vagina Dhea. Persenggamaan ini, membuat kami
lelah, sekaligus puas. Tak lama
kemudian, saya cabut penisku dari liang
senggama Cesca…plookk. Dan kupeluk Cesca dengan penuh mesra, bagaikan
sepasang kekasih. Cesca pun
menyambutnya dengan memelukku
manja dan menciumku. Kemudian aku
dan Cesca beranjak mencari tempat
yang agak dalam untuk merendam tubuh kami masing-masing yang sudah
basah oleh keringat. Sejuk sekali udara
saat itu, air pegunungan sungguh
memberi kesegaran pada tubuh
terutama selepas bersenggama. Kami
duduk berendam di tengah kolam merendam tubuh kami hingga sedada.
Kembali kami saling berciumanan dan
berpelukkan, merapatkan tubuh kami
masing-masing dengan begitu erat.
Beberapa saat kemudian, datanglah
mang Kabir dan Dhea menghampiri kami untuk juga ikut berendam. Kami
membersihkan tubuh kami masing-
masing di dalam air itu. Belum juga
sepuluh menit berendam, kegatelan
mang Kabir kumat lagi, tiba-tiba dia
mendekati Cesca lalu memeluknya erat dan menciumnya. Anehnya, Cesca
membiarkan perlakuan mang Kabir atas
dirinya itu, tidak nampak penolakan
sedikitpun. Melihat pemandangan
fantastis itu, aku pun tidak tinggal diam.
Kutarik Dhea mendekat padaku. Kami kembali berpelukan mesra dan
berciuman dalam keadaan telanjang
bulat, saling menyerang dalam
kenikmatan. Dhea meremas batang
kemaluanku yang kembali tegang. Saya
pun tidak tinggal diam, tanganku mengelus dan meremas sekujur tubuh
indah itu. Kuciumi payudara yang indah
itu dan kusedot dengan penuh nafsu
puting yang sudah tegang itu.
Payudaranya masih tampak merah-
merah bekas cupangan dan remasan Mang Kabir. Nafsunya gede juga tuh pak
tua, pikirku. Kembali Dhea mendesah
penuh nikmat. Desahannya itu begitu
seksi dan menggoda, sehingga
menuntunku untuk bertindak lebih jauh
lagi. Di dalam air,kuelus bulu jembutnya yang lebat itu dan kumainkan jari
tanganku di bibir kemaluannya.
Tindakanku dibalas oleh Dhea dengan
meremas batang penisku dan mengelus
bijinya. Aku pun mendapat kenikmatan
yang luar biasa. Sementara saya melihat mang Kabir sudah memasukkan
penisnya ke dalam vagina Cesca.
Dengan penuh nafsu yang meledak-
ledak, Cesca menaik-turunkan tubuhnya
yang dipangku oleh Mang Kabir sampai
air di sekeliling mereka beriak dahsyat. Betapa nikmatnya kedua mahluk itu
menikmati persetubuhan yang
sensasional. Setelah dirasa, nafsu dalam
diriku sudah menuntut pelampiasan,
batang penisku yang sudah tegang luar
biasa dan Dhea yang sudah duduk di dasar kolam sambil membentangkan
pahanya lebar-lebar, kuarahkan batang
penisku ke bibir vagina Dhea yang
mungil itu. Perlahan-lahan kumasukkan
penisku ke dalam liang senggamanya,
membuat Dhea mengerang penuh nikmat. Proses masuknya penisku ke
dalam liang vaginanya di dalam air
begitu kunikmati, sensasi dinginnya air
gunung perlahan berubah menjadi
sensasi hangat begitu memasuki liang
senggamanya, sungguh nikmat tak terlukiskan. Cantik sekali wajah Dhea
saat dia terangsang dan basah kuyup
seperti itu, sepertinya dia meminta dan
memberikan tubuhnya untuk
kusetubuhi. Aku memajukan pinggulku dan … blleeesss, masuklah kini seluruh batang
kemaluanku yang sudah tegang ke
dalam vaginanya yang sempit.
Kunikmati remasan hangatnya
membungkus penisku. Luar biasa
nikmatnya kejadian hari ini, dimana aku bisa menikmati dua tubuh cewek bule
yang cantik, seksi dan menawan ini.
Dengan penuh nafsu, kegenjot vagina itu
dengan penisku. Permainanku yang
awalnya lembut, berubah menjadi cepat
dan liar. Hal ini membuatnya mendesah dan mengerang penuh nikmat “Yess …agghhh…eeesssshhh… ahhgghh!!” Suara desahan itu menambah
semangatku untuk terus menggenjot
vaginanya. Baru sekitar 20 menit aku
menggenjot vaginanya, Dhea sudah
mengerang sebagai tanda bahwa ia
akan mengeluarkan cairan nikmatnya. Kupompa vaginanya dan kudesakkan
dalam-dalam penisku serta kuputar
pinggulku sehingga penisku seperti
mengaduk-aduk vaginanya. Rasanya
aku pun mengalami yang sama,
akhirnya kutindih tubuh telanjang itu sambil membenamkan penisku lebih
dalam. Byur …tubuh kami pun masuk ke ke air, tak lama kemudian, ….croot… crrrooottt. Kutumpahkan semua
spermaku di dalam liang senggamanya.
Dhea pun mengalami yang sama, untuk
kesekian kalinya ia sampai pada
klimaks persetubuhan ini. Kurasakan
vagina Dhea yang sepertinya meremas penisku, dan kucium dia dengan mesra,
gelembung udara melayang ke atas dari
mulut kami yang sedang berpagutan.
Kami akhirnya mengangkat tubuh kami
hingga terduduk di dasar kolam setelah
merasa sudah membutuhkan udara segar. Aku dan Dhea sungguh
mengalami kepuasan yang tak
terbayangkan saat itu, sensasi orgasme
di dalam air yang sungguh luar biasa. “Wonderful Asep !” pujinya sambil tersenyum padaku. Dan kulihat juga mang Kabir dan Cesca
yang baru saja menuntaskan
syahwatnya. Cesca berlutut di air
sementara Pak Kabir berdiri dan
menyemprotkan isi penisnya ke wajah
si rambut merah yang cantik itu. Cesca membuka mulutnya menerima cipratan
cairan putih kental itu dan menelannya,
tangannya juga menggenggam batang
penis pria itu dan mengocokinya hingga
benda itu kembali melemas. Setelahnya
Cesca masih memberi cleaning service dengan menjilati penis itu hingga bersih.
Betapa beruntung mang Kabir hari ini,
dia bisa menikmati dua tubuh wanita
bule yang cantik ini. Setelah kami
menuntaskan birahi kami, akhirnya
kami mandi bersamaan. Setelah mandi, kami hendak melanjuntukan perjalanan
kami. Mang Kabir menyampaikan
ucapan terima kasih dan berpesan,
bahwa sekali waktu ia ingin
menyetubuhi kembali Cesca dan Dhea
yang cantik menawan itu. Bagiku tidak jadi masalah, dan mempersilahkan
mang Kabir datang ke tempat di mana
kami berkemah. Cesca dan Dhea pun
setuju untuk kembali melakukan
aktivitas sex dengan saya dan Mang
Kabir, tapi mereka juga berpesan padanya agar jangan memberi tahu
siapapun mengenai persetubuhan tadi,
cukup mereka berempat saja yang
mengetahuinya. Akhirnya kami sepakat, akan kembali
melakukan persetubuhan nanti malam
dan mang Kabir diminta untuk datang
sekitar pukul sembilan malam. Karena
nanti malam adalah malam terakhir bagi
Cesca dan Dhea berada di tempat ini. Dan besok, mereka akan kembali ke
Jakarta. Perjalan kami kembali ke tenda,
dipenuhi dengan kegembiraan dan
kepuasan. Tak henti-hentinya kami
saling bercanda, saling pelukan, ciuman,
saling raba dan remas anggota tubuh kami masing-masing. Sekitar pukul 4
sore, kami sudah tiba di tempat kemah
kami dan kami mau istirahat dulu di
tenda masing-masing. Ketika saya
berjalan menuju tenda milik saya, Cesca
melarang saya ke tenda itu, tetapi ia mengajak saya untuk istirahat di
tendanya. Saya tidak menolak ajakan
itu, saya hanya meletakkan ransel yang
saya bawa dan melepas sepatu untuk
diganti sendal di tenda saya itu, lalu
saya menuju tenda di mana ke dua gadis bule itu istirahat. Saya akan
istirahat bersama mereka. Aku masuk
ke dalam tenda itu, dan …suatu pemandangan yang indah, karena
mereka berdua sudah melepas kaosnya
masing-masing sehingga badan
telanjang mereka dan payudara yang
tergantung bebas, kembali saya nikmati.
Saya pun tidur di dalam tenda itu dengan ditemani 2 dara Australia yang cantik.
Sekitar pk 6.30an sore, kami sudah
bangun. Saya yang sudah bangun lebih
dahulu, sengaja membuatkan mie
goreng untuk mereka. Dan benar saja,
saat mereka sudah bangun, mereka langsung menyantap mie goreng buatan
saya. Tentu saja Cesca dan Dhea sudah
mengenakan kaos mereka masing-
masing. Setelah mie goreng itu habis,
kami merokok dan kembali berbincang-
bincang. Setelah itu, kami memutuskan untuk mandi di sungai di dekat kami
kemping, yang jaraknya hanya 50 m.
Karena hari sudah gelap, kami mandi
bersama di sungai itu. Karena suasana
sepi, maka kami mandi bertiga dalam
keadaan telanjang bulat, di sungai itu kami saling menyabuni tubuh kami.
Tentu saja suasana mandi itu diwarnai
dengan tindakan saling raba dan remas.
Setelah 30 menit mandi, kami kembali
ke tenda. Cesca dan Dhea hanya
melilitkan handuk ditubuh mereka, aku hanya mengenakan celana pendek saja
tanpa kaos, dan kami berjalan menuju
tempat kemah kami. Sesampainya di
sana, kembali Dhea dan Cesca menarik
tangan saya untuk masuk ke dalam
tendanya. Di dalam tenda itu, mereka melepas handuknya, sehingga tubuh
mereka menjadi telanjang bulat. Mereka
memeluk saya sambil menurunkan dan
melepas celana pendek saya, sehingga
akhirnya, saya juga turut bugil bersama
mereka. Kami kembali melakukan persetubuhan di dalam tenda itu.
Kenikmatan yang tadi pagi sampai siang
kami arungi, kini kembali terulang. Dalam ketelanjangan ini, kami saling
raba. Saya mencomot payudara Cesca
dan Dhea bergantian dan menciuminya
penuh nafsu. Tangan kiri saya mengelus
vagina Cesca yang sudah terbuka dan
tangan kanan saya merabai vagina Dhea, mereka kembali terengah-engah
menikmati service dari jemari tangan
saya. Kujejerkan tubuh Cesca dan Dhea,
dan kejilati kedua vagina itu bergantian,
sampai mereka merasa nikmat. Setelah
saya menjilati kedua vagina itu, kini kusiapkan penis yang sudah tegang ini
untuk bersatu dengan vagina indah dan
sempit ke dua cewek bule itu. Mereka
berdua rebutan untuk menjadi orang
pertama yang ditusuk dengan penis
saya. Supaya adil, lalu mereka saya undi dengan sekeping uang logam. Dan
akhirnya, yang pertama kali akan saya
setubuhi adalah Cesca. Betapa
senangnya Cesca, mengetahui kalau dia
akan menjadi orang pertama yang saya
setubuhi. Dia membentangkan pahanya lebar-lebar. Dan akhirnya, saya
mengarahkan penis ini ke dalam vagina
Cesca. Dan eeeeggghhh…masuklah kini seluruh batang penis saya ke dalam
kemaluan Cesca. Genjotanku yang
tadinya perlahan, kini berubah menjadi
kencang. Tanganku pun, tidak tinggal
diam untuk meraba dan menikmati
payudara indah itu. Dhea berlutut di sebelah kananku meminta saya untuk
mengobok-obok vaginanya dengan jari
tangan saya. Sehingga di dalam tenda
itu, selain saya melakukan
persetubuhan dengan Cesca, saya pun
meraba dan mengocok liang vagina Dhea dengan jemari saya sampai ia
menemukan kepuasan. Sedang asyik-
asyiknya berthreesome, tiba-tiba
terlihat sesosok bayangan dari luar
tenda lalu terdengar suara mang Kabir
dari luar memanggil kami, rupanya ia mau saja berjalan lumayan jauh dari
desa hanya untuk ikut bergabung
melakukan persetubuhan lagi. Mang
Kabir mengatakan bahwa ia membawa
kejutan yang asyik, khususnya untuk
kedua cewek bule itu. Dalam keadaan telanjang bulat, aku membuka resleting
tenda dan bertiga keluar dari tenda.
Kami langsung terhenyak kaget begitu
mendapati kejutan yang dimaksud Mang
Kabir di luar sana. Ternyata di luar tenda
itu, sudah menunggu sekitar 20an pria dari pemuda tanggung hingga yang
rambutnya sudah memutih dari desanya
mang Kabir yang sengaja diajaknya
untuk menikmati tubuh mulus dan
vagina sempit kedua bule yang masih
muda dan cantik itu. Cesca dan Dhea saling pandang dengan wajah
terbengong-bengong menyaksikan
kehadiran mereka. “Oh Jezz…it’s not good!” sahut Cesca Wajah-wajah dengan seringai mesum
yang telah mengepung kami pun mulai
berjalan mendekat. TAMAT

Selasa, 16 November 2010

17 +

Cerita Sex Sama Gadis Kecil 11
Tahun by admin Saturday, October 30, 2010 00:56:30 hits:
565162 Cerita Sex kali ini adalah kiriman dari seorang member yang mempunyai nick name "trokio" berikut Ceria Dewasa dari beliau Hai, sebut aja nama gw tio 21thn, dr kecil gw di bekalin ilmu agama yg mnurut gw ckuplah buat hari akhir kelak, sampai sampai gw agak krng faham sama yg namanya seks, cerita ini bermula pada saat usia gw 19thn, dari kejadian inilah pertama kalinya gw ngrasain nikmatnya seks yg gw lakuin sama teman adik gw sebut saja namanya ima 11thn, waktu itu ima dia masih duduk di kelas 6 SD, dan skrg dia sudah duduk di bangku smp kls 8 smp. Sebelumnya tak sedikit pun pernah terlintas di benak gw kalo seks pertama gw bakal gw lakui sama anak di bawah umur, bayangin coy msh 11 taun, gila kan?, tapi emang itu lah kenyataannya. Siang itu ima main kerumah gw, maksutnya mau ngajak adik gw belanja buku, tapi karena masih jam 12.35 jd adik gw belum pulang dari sekolah, sambil nunggu ima pun ikut gw liat acra sergap yg di tayangin di stasiun swasta. Gw sama ima sudah sering bersama sama, ima udah gw anggap seperti adik sendiri, jadi gw gak nolak waktu dia tiduran di pangkuan gw, karna konsen liat brita jadi kami gk banyak bicara, gw hanya membelai mbelai rambut ima sementara tangan yg kiri gw letakin di atas perut ima karena baju ima cukup ketat jadi bagian perut tidak tertutup oleh kain, otomatis tangan gw bersetuhan sama kulit halus dan mulus perut ima, entah apa yg ada di pikiran ima tiba tiba saja dia meremas remas tangan kiri gw dan dengan perlahan meletakkan tangan gw tepat di dadanya sebelah kanan, waktu itu gw rasain kalo ukuran dada ima cukup besar bila di banding ukuran punya teman teman sebayanya, Cerita Sex kali ini adalah kiriman dari seorang member yang mempunyai nick name "trokio" berikut Ceria Dewasa dari beliau Hai, sebut aja nama gw tio 21thn, dr kecil gw di bekalin ilmu agama yg mnurut gw ckuplah buat hari akhir kelak, sampai sampai gw agak krng faham sama yg namanya seks, cerita ini bermula pada saat usia gw 19thn, dari kejadian inilah pertama kalinya gw ngrasain nikmatnya seks yg gw lakuin sama teman adik gw sebut saja namanya ima 11thn, waktu itu ima dia masih duduk di kelas 6 SD, dan skrg dia sudah duduk di bangku smp kls 8 smp. Sebelumnya tak sedikit pun pernah terlintas di benak gw kalo seks pertama gw bakal gw lakui sama anak di bawah umur, bayangin coy msh 11 taun, gila kan?, tapi emang itu lah kenyataannya. Siang itu ima main kerumah gw, maksutnya mau ngajak adik gw belanja buku, tapi karena masih jam 12.35 jd adik gw belum pulang dari sekolah, sambil nunggu ima pun ikut gw liat acra sergap yg di tayangin di stasiun swasta. Gw sama ima sudah sering bersama sama, ima udah gw anggap seperti adik sendiri, jadi gw gak nolak waktu dia tiduran di pangkuan gw, karna konsen liat brita jadi kami gk banyak bicara, gw hanya membelai mbelai rambut ima sementara tangan yg kiri gw letakin di atas perut ima karena baju ima cukup ketat jadi bagian perut tidak tertutup oleh kain, otomatis tangan gw bersetuhan sama kulit halus dan mulus perut ima, entah apa yg ada di pikiran ima tiba tiba saja dia meremas remas tangan kiri gw dan dengan perlahan meletakkan tangan gw tepat di dadanya sebelah kanan, waktu itu gw rasain kalo ukuran dada ima cukup besar bila di banding ukuran punya teman teman sebayanya. Gw juga rasain kalau ima juga gak pake bh, setelah itu dia menggerakan tangan gw dengan gerakan memutar mutar di payudara mungilnya itu, dan gw hanya diam saja gk berpikir macam macam, tapi saat dia perlahan mulai memasukkan tangan gw kedalam bajunya lewat cela cela dari kacing bajunya, kontan saja gw narik tangan dan sempet nyubit pipi ima sambil bilang
Ima apaan sich? dengan agak sewot, tapi ima malah ketawa ketawa nakal sambil meraih tangan kiri dan menggigitnya pelan, setelah itu gw kaget sama pertanyaan ima yang rasanya gak mungkin di lontarkan oleh gadis kecil seumurannya, Mas udah pernah begituan belum? Tanya ima pelan seperti berbisik dan terlihat malu malu. begituan apa ma? gw balik nanya. Ima tidak menjawab, dia malah bangun terus duduk menyenderkan kepalanya di dada gw, posisinya agak setengah memeluk gw. Sambil mainin kancing baju gw ima bercerita sex tentang kalau dia sering ngintip kakak perempuanya beradegan ranjang, diam diam dia juga sering mutar vcd porno milik kakaknya. Ima cerita panjang lebar cara dan gaya ranjang kakaknya dan cerita itu membuat gw jadi bergairah, kemaluan gw menegang darah gue mengalir gak beraturan, gw bener bener lupa daratan, yang tadinya gw nolak megang dada ima sekarang malah asik saat ima menuntun tangan gw untuk merabanya, tak cuma itu gw jg gak nolak saat ima mulai ngecup ngecup pipi dan bibir gw dengan liar tp malah membalasnya dengan liar pula, ini adalah pertama kalinya gw nyium cewek, entah kapan ima membuka bajunya yang jelas tiba tiba saja dia sudah setengah telanjang, cuma maemakai rok mini jeans doank, dia pindh duduk dengan kaki terbuka berlutut di pangkuan gw, terlihat 2 payudara bulat putih mulus dengan ukuran cukup mungil dan gak ada puntingnya itu berada tepat di hadapan gw, dan seperti seorang ibu yg mau nyusuin anaknya ima mengarahkan payudara mungilnya itu kemulut gw, dan dengan pelan tapi pasti gw menghisap menjilat mainan baru gw itu, seperti cacing kepanasan ima menggeliat geliat sesekali menekan kepala gw ke buah dadanya itu sampai sampai gw gak bisa bergerak sementara itu kemaluan gw semakin tegang dan terasa sakit, kejadian itu agak lama sekitar 15, tak berapa lama kemudian ima turun dan duduk tepat di bawah gw, dengan agak kesulitan dia membuka resltng gw, tapi usahanya gagal jadi terpaksa gw berdiri dan gw buka sendiri, ketika melihat punya gw ima terlihat kaget banget, dengan ragu ragu ima memegagnya pelan ini gak bakal muat mas kata yang keluar dari bibir ima yg terlihat basah, apanya ma? tanya gw. ini punya mas gede banget gak bakalan bisa masuk ni jawab ima punya kakak ipar ima gak sampai segini mas tambah ima lg. Gw kaget banget saat ima mau memasukkan kemaluan gw ke dalam mulutnya, kontan saja gw dorong ima mau apa ma? tanya gw takut kalo ima gigi adik kecil gw yg ganteng ini, mau praktek jawabnya singkat, biarpun gw belum paham sama maksud ima tapi gw yakin ima gk bakal nyelakain gw, dan tiba tiba saja ima mengulup punya gw, tapi hanya kepalanya saja yang bisa masuk, karena bibir ima terlalu mungil, seketika itu juga gue rasain kenikmatan Yang luar biasa, sabar banget ima menjilati menghisap kepala penis gw, gw pun melepaskan baju gw yang udah agak basah kena keringat gw yg ngucur lantaran nahan geli dan nikmat karena jilatan dan kuluman ima. Mas coba masukin yok terdengar suara ima pelan. Sambil mebuka rok jeans mininya ayo ma mas juga pengen banget nyoba ni sahut gw meng iyakan ajakan ima. Cerita Sex Sama Gadis Kecil 11 Tahun akan bersambung ke part 2 dan akan kami update beberapa hari lagi jadi tongkrongin terus situs cerita sex dan cerita dewasa indonesia terbaru ini, dan kami dari team Ceritaindonesia.info mengucapkan terima kasih kepada bro trokio atas kiriman cerita dewasa nya dan kami tunggu kiriman cerita sex dewasa lainya dari member yang lain