Alice berdiri di belakang suaminya yang
sedang bicara dengan seorang petugas
di resepsionis, tangan di belakang
menggenggam mesra tangan Alice.
Semua orang tak hentinya
mengucapkan selamat, setiap kali berpapasan dengan pasangan yang
baru saja menikah ini. Keduanya begitu
jelas terlihat baru menikah karena Alice
masih tetap memakai busana
pengantinnya. Suaminya melepaskan
genggaman tangan mereka untuk menandatangani pemesanan kamar.
Alice melangkah mundur dari meja
resepsionis dan menyapukan
pandangan ke seputar lobi. Seorang pria
negro sedang memandanginya.
Pandangan mata mereka bertemu dan Alice membalasnya dengan senyuman,
menganggap mungkin sang pria
merasakan kebahagiaan yang
terpancar dari pasangan pengantin baru
di depannya. Tapi tatapan matanya tak
juga bergeming. Apa ini? Sesuatu tentang raut wajahnya memaksa batin
Alice berbisik. Dia tahu arti dari
ekspresinya tersebut, tapi tak mampu
untuk menjelaskannya. Intensitasnya
menyebarkan atmosfir. Matanya yang
tak berkedip mengisyaratkan kalau dia tengah memikirkan sesuatu …Alice palingkan pandangnya. Sang pria ingin
menyetubuhinya! Telah dia lupakan
gairah akan pria lain semenjak
berkencan dengan Tom. Dia tahu dengan
cepat bahwa Tom adalah pria spesial
untuknya dan segera dia tutup hatinya bagi pria lain. Dia telah lupa, atau tak
menyadari, bahwa semua pria suka
memandang kecantikannya. Pria itu
ingin menyetubuhinya. Tapi apa yang
Alice cemaskan? Dia sudah menikah
sekarang! Terlihat jelas telah menikah! Kembali dia menoleh ke arah sang pria,
yang tak pernah henti memandangnya.
Dia amati wajahnya sekarang, memang
tidak tampan dan berkulit gelap, segelap
rambut hitamnya dan matanya yang
juga senada, tapi seperti ada daya tarik tersendiri. Kenapa dia cuma terus
menatapnya saja? Kenapa dia tidak
tersenyum atau bahkan memberi
isyarat yang cabul? Alice baru sadar
kalau dia telah balas menatap sang pria
untuk sekian lama setelah Tom menyentuh pundaknya. Dia tersenyum
pada suaminya, kemudian ikut
melangkah menuju ke kamar yang
mereka pesan. Dia mulai merasa
terangsang. Dia menyetubuhi suaminya
dengan segenap hasrat. Pengantin baru ini bercinta dengan penuh gairah, berisik
dan liar. Tom menyutubuhinya di atas
ranjang, lalu di lantai dan terakhir di
dalam bathub. Mereka terlelap ke alam
mimpi dengan tubuh telanjang saling
dekap. Alice merinding setelah air yang
membasahi tubuhnya perlahan berubah
jadi dingin. Dia berdiri di dalam bathtub,
membiarkan payudaranya yang basah
menggantung bebas dihadapan
suaminya. Kemudian dia melangkah keluar dari dalam bathub dan menuju ke
depan cermin. Dia tertawa saat melihat
kulitnya yang mulai berkerut kedinginan
di depan cermin. Tawanya terhenti saat
dia mainkan kalung rantai yang telah
diberikan Tom sebelum mereka menikah. Dia tak tahu asal usulnya, tapi
suaminya mengatakan kalau rantai itu
merupakan sebuah simbol ikatan cinta
yang kuno. Selama dia memakainya,
mereka berdua tak akan dapat
terpisahkan. Dia memegangnya, memantulkannya di atas kekenyalan
payudaranya dan kemudian mencoba
mengepaskan bulat payudaranya
dengan lingkaran rantai tersebut. Entah
bagaimana, dia dapat merasakan Tom
tengah menyentuhnya setiap kali rantai tersebut bersentuhan dengan kulitnya.
Dia melangkah masuk ke dalam kamar
dan mengeluarkan jubah sutera
berwarna emas yang pendek dari
dalam tasnya. Dibungkuskan lembutnya
kain tersebut ke tubuh telanjangnya. Dia duduk di atas ranjang, membuat ujung
jubahnya tersingkap hingga atas
pahanya dan menampakkan sedikit
vaginanya yang mengintip. Dia
tersenyum ketika menyadari betapa
terbukanya jubah pendek tersebut. Tom akan sangat suka dia memakainya, atau
lebih tepatnya lagi, menyetubuhinya
dalam balutan jubah sutera tersebut.
Suara gemericik shower menyadarkan
Alice dari suasana erotisnya. Dia
mempertimbangkan untuk masuk saja ke dalam kamar mandi, menyusul
suaminya dalam guyuran air hangat,
tapi dia merasa begitu haus. Dia raih
dompetnya dan mengeluarkan
beberapa recehan. Dia putuskan untuk
membeli sebotol teh dingin, lalu melihat apa suaminya butuh bantuannya apa
tidak. Dia keluar dan melangkah
menyusuri lorong, lupa akan jubahnya
yang pendek dan tipis. Bergegas dia
menuju mesin penjual minum otomatis
di lantai terdekat, memasukkan koin recehannya dan membungkuk untuk
mengambil minumannya. Terdengar
suara pintu yang dibuka datang dari
lorong saat dia ambil kaleng
minumannya. Dia tolehkan wajahnya ke
arah sumber suara tadi. Itu sang pria tadi. Dia berjalan
mendekatinya, langkahnya
menunjukkan keyakinan diri atau
ketidakpedulian, Alice tak tahu yang
mana. Tapi sorot matanya membimbing
Alice untuk mempercayai bahwa itu adalah sebuah keyakinan diri yang kuat.
Alice merasa tak kuat berdiri menahan
tubuhnya, dia mulai rubuh. Sang pria
semakin dekat, dia raih tangan Alice
untuk membantunya berdiri, memegang
kepalanya dan mengarahkan agar tatapan mata Alice tetap
memandangnya. Ada sesuatu dalam
sorot matanya … begitu misterius… begitu memikat … begitu penuh nafsu… tapi sama sekali tak mengancam. Sang
pria tersenyum. Alice terlalu mati rasa
untuk merespon. Sang pria kembali
berjalan menyusuri lorong
meninggalkannya. Sebuah hembusan
hawa dingin menyapu pahanya dan naik menggelitik rambut di
selangkangannya. Sang pria telah
melihat pantatnya. Dia sadar kalau
jubahnya yang begitu pendek pasti
tersingkap naik saat dia membungkuk
untuk mengambil minumannya tadi. Pantat telanjangnya akan terlihat
membulat nikmat dalam posisi tersebut
– dia mengetahuinya dari beberapa pose yang pernah dia lakukan didepan
cermin. Lalu dia menyadari sesuatu
yang jauh lebih penting. Sang pria pasti
juga telah melihat vaginanya. Telah dia
saksikan sendiri lipatan bibir vaginanya
yang mengintip begitu menggoda dari bawah pantatnya. Sang pria pasti sudah
melihatnya. Alice bergegas kembali ke
kamarnya, kembali pada suaminya. Tom
akan dengan senang hati menyetubuhi
isterinya yang berpakaian minim lagi.
Alice muncul di kamar mandi dan memberi suaminya sebuah pertunjukan
kecil. Dia membungkuk seperti yang
dilakukannya di mesin minuman tadi,
bertanya pada suaminya, “Apa kamu pikir ini terlalu pendek ?” Jelas dia akan berkata “Tidak. ” Lalu Alice kembali bertanya,
“Bukankah kalung rantai ini pas di sini?” Dan mulai membuka bagian depan jubahnya, mengekspos kalung
rantai dan payudaranya. Dia biarkan
pemberian suaminya tersebut
menggantung di putingnya. Tom menelan jawabannya. Alice
menjatuhkan jubahnya ke atas lantai,
lalu melangkah masuk ke dalam
siraman air hangat bersama suaminya.
Alice telah lupa perjumpaan dengan
sang pria pada malam sebelumnya. Dia terbangun dari tidurnya, tubuh
telanjangnya menempel rapat ke tubuh
telanjang suaminya dan pikirannya
hanya dipenuhi oleh kebahagiaan dan
masa depan yang menanti mereka. Dia
melangkah ke kamar mandi dan melihat jubah berwarna emas yang tergeletak
di atas lantai. Pikiran tentang sang pria
asing datang kembali. Dia pasti sudah
memberinya sebuah pertunjukan yang
cukup menggairahkan! Dia pakai jubah
tersebut, mengingat bagaimana cara sang pria memandangnya.
“Apakah …” Dia membungkuk, posisi yang sama
seperti saat dia mengambil minuman
kemarin. Dia menoleh ke cermin di
belakangnya. Sudah pastilah sekarang,
bongkahan pantatnya tersingkap
dengan cepat. Vaginanya menyusul muncul tepat sesudahnya. Dia rasakan
sebuah hembuasan hawa hangat
menyapu tubuhnya karena
pemandangan tersebut. Dia bangkit dan
mengamati tubuhnya di dalam pantulan
cermin. Dia amati putingnya mengeras dari balik jubah suteranya dan dia mulai
memainkan jubah tersebut. Dia
singkapkan lebih untuk memperlihatkan
daging payudaranya lebih banyak lagi,
lalu menutupnya kembali. Dia uji
seberapa longgar dia bisa mengikat bagian depan tanpa terlalu banyak
memperlihatkan tubuhnya. Dia nikmati
belahan dadanya yang terlihat
menggiurkan. Tanpa berpikir, tangan
kirinya menyelinap ke balik jubah
suteranya dan meremas payudaranya yang sebelah kiri dengan lembut. Tak
mampu dia cegah untuk memikirkan
sang pria asing dan betapa senangnya
dia jika sang pria melihatnya seperti
sekarang ini! Kain sutera tersebut
menggantung dengan lembut di pinggir payudara telanjangnya, terlipat seiring
gerakan naik turunnya. Dia bayangkan
mata sang pria menatap tak berkedip
padanya … pada dadanya. “Dia mungkin sudah melihat vaginaku, tapi dia belum lihat yang ini !” Tangan kananya merayap menaiki
pahanya, menyusup ke dalam jubah. Dia
usap vaginanya dan memandangi tubuh
indahnya yang menggelinjang. Jubah
tersebut tetap dalam keadaan terikat
longgar pada bagian depan. Dapat dia lihat pandangan penuh gelora birahi
dalam tatapan matanya. Seperti itukah
dia membalas tatapan mata penuh
nafsu dari sang pria? Dia pejamkan
matanya setelah pikiran itu terlintas. Alice merasa mata sang pria tengah
mengawasinya sekarang.
Keberadaannya di dalam benaknya. Dia
hayalkan sang pria asing berada di
seberang cermin, memandang
payudaranya yang terguncang … melihat dia tengah memuaskan dirinya sendiri.
Dia selipkan satu jarinya masuk ke
dalam celah vaginanya. Apakah ini jari
sang pria?
“Oooh…” Alice mendorong jarinya masuk ke dalam lubang vaginanya
sendiri dengan keras, mengangkat
pinggulnya berlawanan arah dengan
sodokan jarinya.
Bagaimana jika ini adalah batang
penisnya? Alice berhenti. Dengan cepat dia tutup jubahnya dan melangkah
menuju ke dalam kamar. Tanpa melihat
ke arah suaminya, dia kenakan
sepotong celana pendek dan menutupi
payudara telanjangnya dengan sweater
yang ringan. Dia akan turun untuk mendapatkan secangkir kopi … dia akan turun dan melupakan bayangan yang
baru saja dia hayalkan. Alice menerima
secangkir kopi dari si gadis di belakang
meja konter. Dia teguk cairan panas itu,
berharap dapat meredakan gemetar
tubuhnya. Tapi malah semakin menambah merah kulitnya yang telah
merona. Dia berbalik dan melangkah
menuju ke lift.
“Ya ampun …” Sang pria asing berdiri di pintu. Lift itu
mengarah turun, tapi dia tidak keluar.
Alice melangkah masuk, merasa aman
karena ada sepasang orang berumur
lebih tua masuk bersamanya. Dia
menolak memandang ke arah sang pria, tapi dia tahu kalau mata sang pria
memandanginya. Dia MERASAKAN mata
sang pria di tubuhnya. Jantungnya
berdegup kencang dibalik sweaternya.
Dia teguk kopinya dengan tangan yang
gemetar. Dia gigit bibir bawahnya saat merasakan denyutan diantara pahanya.
Perasaan itu tumbuh makin besar,
seakan ada jari yang menggosok bibir
vaginanya, mengirimkan getaran
menggelora ke sekujur tubuhnya.
Vaginanya bereaksi sendiri, seakan tahu kalau pernah dilihat dan ingin untuk
kembali dipandang. Kembali dia teguk
kopinya, tak menyadari kalau lift telah
berhenti. Pasangan tua tersebut
melangkah keluar. Tak ada seorangpun
yang masuk lagi. Lift kembali naik. Alice sadar kalau setidaknya dia melirik ke
arah sang pria. Jika tidak, sang pria akan
mendekatinya. Dia bersiap untuk
memberikan sedikit senyuman. Dia
paksakan kepalanya bergerak sedikit
ke arah sang pria, menunggu sang pria menatapnya dengan seringai serta
mengucapkan sesuatu yang kasar. Sang pria menatapnya. Seakan matanya
tak pernah berpaling, terus menatap
Alice. Seakan mata itu tak memiliki arah
tujuan lainnya, mereka terus
menatapnya. Alice merasakan
hantaman sensasi dari kepala hingga ujung kakinya. Dia akan tersenyum lalu
segera berpaling. Tapi dia tidak
tersenyum. Dia sama sekali tak
berpaling. Alice memandang tepat di
matanya dan dia sadar dirinya telanjang
baginya. Tanpa memakai pakaian dan sang pria telah melihat
ketelanjangannya untuk memperkuat
imajinasi terlemahnya. Belum pernah
Alice menyaksikan pernyataan nafsu
yang begitu berani dari seorang pria
kepadanya, bahkan sang pria belum mengucapkan sepatah katapun. Dan
Alice belum juga memalingkan muka.
Lift berhenti di lantainya Alice. Pintunya
terbuka. Seharusnya dia bergerak. Sang
pria yang bergerak. Dia mendekati Alice
hingga hanya berjarak 1 inchi darinya. Pintu lift menutup kembali. Alice
merasakan vaginanya berdenyut. Dia
rasakan putingnya terbakar. Sang pria
menciumnya. Sang pria tidak beraksi
dengan serangan nafsu buta. Dia hanya
menekankan lidahnya ke bibir Alice dan menciumnya. Alice balas mencium. Dia
rasakan bibir basahnya bertemu dengan
bibir basah sang pria dan meluncur
lembut di atasnya. Pintu lift terbuka.
Lantai berikutnya. Seorang pria dengan
anaknya masuk. Sang pria asing hentikan ciumannya seiring terbukanya
pintu lift dan bersama Alice menoleh ke
arah para pengganggu. Keabadian
seakan berjalan lambat. Alice menatap
pintu lift yang terbuka. Setiap denyut
kesadarannya mengatakan agar melangkah keluar melewati pintu
tersebut. Dia melangkah ke depan, tapi
terhalangi oleh tubuh sang pria. Tangan
sang pria berada di dada Alice. Alice
melihat penguasaannya pada
tekanannya yang lembut. Dia mulai menyadari kalau tangan tersebut telah
berada di dadanya selama ini. Dia
memaksa melewati sang pria asing,
keluar menuju ke lorong. Dia begegas ke
arah tangga, berharap sang pria tidak
mengikutinya. Dia sampai ke ujung lorong, nafasnya memburu cepat.
“Dasar wanita bodoh, kamu wanita – yang bodoh !” Dia terus merutuk dirinya sendiri saat menuruni tangga.
Begitu menyesal karena tak
membiarkan sang pria menganggap
bahwa dia telah berhasil
menaklukannya. Begitu menyesal
karena bersikap tenang dan seakan isteri yang penurut dan setia. **** Tom terbangunkan oleh isterinya, yang
sedang menggesekkan vaginanya ke
batang penisnya agar ereksi. Dia
lepaskan sweater dari tubuh isterinya
dan kalung rantai yang menggantung
dipayudara Alice menghantam wajahnya. Alice luncurkan vaginanya
pada batang penis Tom yang sudah
keras sekarang dan dan dia tarik kalung
rantainya terlepas dari leher saat dia
mulai bergerak menyetubuhi suaminya.
Sekali lagi dia berusaha keluarkan pertemuan dengan sang pria asing dari
dalam benaknya saat dia dan suaminya
tengah bersiap untuk perjalanan bulan
madu. Mereka sedikit terlambat untuk
berkemas, terima kasih pada gelora
birahi Alice. Dia butuh Penis suaminya dalam tubuhnya, itu akan mengingatkan
dia akan cinta yang dia rasa pada
suaminya dan komitmennya pada
pernikahan mereka yang suci. Selama
Tom bercinta dengannya, dunia akan
jadi sempurna. Namun hasrat Alice yang terus berkobar sepanjang hari sungguh
membuat Tom kelelahan dan akhirnya
Alice menyerah untuk membiarkan
suaminya rehat. Mereka nikmati
keindahan panorama, pergi makan
malam yang romantis dan kembali ke kamar pengantin mereka setelah
merasa segar dan siap untuk malam
panjang penuh gairah. Mereka berdiri di
depan pintu utama, menunggu
kendaraan datang. Mata terus fokus
mengamati jalanan dari bukit yang berliku panjang. Berharap taksi yang
mereka pesan segera datang dan Alice
tak perlu lagi merasa cemas melihat
sang pria asing di sekitarnya. Tapi
memfokuskan diri pada taksi ternyata
tak banyak membantu. Seakan sang pria muncul ke manapun mereka pergi,
selalu muncul dalam penglihatan Alice
saat mata Tom tak melihatnya. Sang pria
terus memandangnya saat di restoran,
saat di pantai, saat di musium. Dalam
setiap tatapan, gairahnya berkobar semakin besar terhadap Alice.
Intensitasnya seakan sebuah kontak
fisik bagi Alice, merangsang
payudaranya, membuat vaginanya
basah dan membara oleh tangan-tangan
yang kasat mata. Alice tak pernah beranjak dari sisi suaminya. Tak akan
dia biarkan sang pria menyentuhnya
kembali. Tak akan dia ijinkan sang pria
membangkitan sesuatu yang terlarang
dari dalam dirinya. Dia sekarang
seorang isteri, yang baru … Dinner datang setelah matahari
terbenam. Akhirnya mereka dapat
duduk di sebuah private restoran.
Sebuah bilik terpencil sangat
tersembunyi dari mata yang
mengawasi. Hanya mata suaminya serta mata pelayan remaja yang bisa
memandangi kecantikan Alice. Alice
menarik nafas dan menekankan kalung
rantainya ke belahan dadanya. Dia
memakai gaun yang bisa membuat
mata setiap pria terloncat keluar dan dia menerka seberapa lama suaminya
mampu menahan diri saat
memandangnya memakai pakaian
seperti ini. Tap tak lama berselang, kaki
Tom telah menemukan jalannya kebalik
rok dan menuju ke celana dalam Alice. Ujung jempolnya menggesek
selangkangannya, dia menggeser posisi
tubuhnya sedikit membungkuk ke
depan untuk menyambut sang
penyusup. Tom menjatuhkan buah
zaitun ke belahan dada Alice, lalu pura- pura kesulitan saat mencoba
mengambilnya dara dalamnya.
Tangannya merayap pelan membelai
payudara Alice. Dia membuat
permainan kecil dengannya, kadang
mengambil sesuatu barang lainnya untuk dijatuhkan ke dalam belahan dada
isterinya. Alice merasa bersyukur akan
bilik terpencil yang mereka tempati ini
karena beberapa kali tangan nakal
suaminya menyebabkan payudaranya
menyembul keluar dari balik gaun. Setiap kali Tom dengan cepat
memandang sekelililingnya, lalu
mencelupkan puting Alice ke dalam
wine atau kecap, hanya untuk kemudian
dia hapus dengan sebuah hisapan serta
kecupan bibirnya sendiri. Celana dalam Alice kuyup sudah dan dia sudah tak
sabar untuk kembali ke dalam kamar
pengantin mereka. Tom menarik tangan
Alice ke arah selangkangannya dan
menyusup ke dalam. Dia meremas penis
suaminya dari bawah meja. Tom menggigit tulang steak dengan keras,
mencoba untuk tidak mengerang keras
saat isterinya memijit dan mengocok
penisnya. Alice merasakan sebuah
cairan hangat menyembur pada
tangannya. Sial! Dia ingin memuaskan suaminya, tapi tidak ingin
menyudahinya secepat ini! Dia lap
sperma Tom di tangannya dengan
serbet, tapi dia sadar kalau dia butuh
lebih dari sekedar kain serbet untuk
membersihkannya. Dia tutupi tangannya dengan serbet dan bergegas menuju ke
toilet wanita. Keluar dari area restoran
dan menuju ke lobi. Dia temukan tanda
toilet wanita dan melangkah menuju
lorongnya. Ada seseorang sedang
duduk di kursi, di samping jalan masuk toilet wanita tersebut. Itu sang pria. Dia merasakan campuran
rasa takut dan marah. Bajingan ini masih
membuntuti mereka dan menunggu dia
keluar dari dalam restoran. Alice harap
bisa melewati pria ini sebelum dia
melihatnya. Tapi dia gagal. Sang pria berdiri, menghalangi jalannya. Hampir
saja Alice berlari menubruknya. Dia baru
saja akan berkata “Permisi,” atau “Kamu *******. ” Tapi sang pria akan sangat menikmati
pilihan yang kedua. Namun sebelum
Alice mengucapkan sepatah kata, sang
pria mulai bergerak mundur,
memberikan jalan bagi Alice untuk
menuju ke pintu masuk, meskipun Alice masih tetap berdiri di tempatnya
berada. Alice tak menatap matanya
hingga sang pria berhenti lagi. Mereka
berada di ujung lorong. Toilet wanita
terletak di tempat paling ujung hingga
keberadaan keduanya sama sekali tak terlihat dari restoran. Alice ingin teriak,
tapi kembali dia mendapati mata sang
pria. Masih tersisa gelenyar sensasi
dalam tubuhnya dari permainan kecil
dengan suaminya tadi. Dan gelenyar
tersebut terus bergolak saat mata sang pria memandanginya dalam balutan
gaun ketat. Dia merasakan matanya
berhenti di payudaranya – terasa seakan sebuah cairan hangat tertuang
dari kedua matanya. Bergerak turun ke
pinggangnya dan dia merasakan
tatapannya seakan sepasang tangan
memegangi pinggangnya. Bergerak
turun lagi ke pahanya dan dia merasa tatapanannya bagaikan angin lembut
yang berhembus pelan naik turun
menyusuri kedua pahanya. Ternyata itu
memang tangannya. Ujung jari tengah
sang pria bergerak menyusuri naik
turun daging paha Alice yang terbuka. Tangan yang satunya memegang
tangan Alice yang memegangi kain
serbet. Alice merasakan sperma
suaminya teremas diantara tangan
mereka saat sang pria
mengarahkannya menuju ke pinggang Alice. Alice merasakan tangannya
sendiri menekan gaunnya naik,
dibimbing oleh tekanan tangan sang
pria. Alice rasakan tangannya sendiri
kini menekan celana dalamnya,
menekankan serbet yang berlumuran sperma Tom ke tubuhnya. Kain celana
dalamnya terasa begitu tipis. Tangan
Alice terkulai lepas kala sang pria
menekankan serbet tersebut ke dalam
vaginanya. Alice merasa serbet basah
tersebut membasahinya, mengalir menyentuh tubuhnya. Sang pria
menekannya masuk, celana dalamnya
tertekan ke dalam celah vaginanya dan
dia rasakan jari sang pria mendorong
serbet beserta spermanya menyentuh
klitoris Alice. Alice mematung, terdiam beku.
Tubuhnya membeku seutuhnya kala
serbet tersebut perlahan menerobos
masuk ke dalam vaginanya. Itu adalah
sperma suaminya. Tapi dengan tangan
sang pria. Alice merasa dirinya berteriak, jauh di dalam hatinya. Sebuah
suara dari hati yang waras,
meneriakkan akan kesalahan dari
seluruh peristiwa ini. Tapi ini adalah
sperma suaminya sendiri!!! Namun
kemudian ada sesuatu yang terjadi, seseorang muncul dari ujung lorong.
Seorang pria, berjalan mendekati
mereka dan Alice dapat merasakan
kalau mata pria yang muncul tersebut
seakan terkunci pada obyek yang
tengah digosokkan pada selangkangannya. Alice dapat
memastikan hal itu karena tak juga dia
dengarkan suara derit pintu dibuka dari
toilet pria. Pria itu menyaksikan
seseorang sedang menggosokkan
sperma suaminya ke dalam vagina Alice. Alice seakan tersadar dari alam
bawah sadarnya dan dia bergegas lari
keluar dari lorong tersebut. Sang pria
hanya memandangnya dalam diam kala
Alice berlari melewatinya. *** Tom sedang terlelap. Mereka usai
berhubungan seks. Satu kali. Alice
membiarkan suaminya
menelanjanginya, mencium
payudaranya dan menyetubuhinya
dengan segenap hasrat. Alice mendapatkan orgasme, namun gairah
yang mereka bagi saat di meja restoran
tadi tak pernah kembali. Dia tarik wajah
suaminya mendekat,
membenamkannya diantara payudara,
mencoba untuk menarik kembali gairah dan birahinya. Alice ingin terbang tinggi
dan menghilang bersama Tom. Ingin
merasakan Tom di dalam tubuhnya.
Ingin menggoyang liar batang penis Tom
yang menyodoknya dan meyakini
bahwa suaminyalah pecinta terbaik di dunia ini untuknya. Namun kini Tom
tidur. Alice tak bisa menyalahkannya.
Mereka hanya tidur sebentar-sebentar
saja semenjak sampai di sini dan gelora
seks Alice telah membuat suaminya
kewalahan. Dia biarkan kepala suaminya terkulai di samping tubuhnya.
Dengan hati-hati dia pindahkan tubuh
Tom yang menindihnya, lalu berdiri. Dia
mainkan kalung rantainya sembari
berjalan mondar-madir dalam kamar
dengan telanjang. Kembali dia rasakan tenggorokannya teramat kering, lalu
mengambil recehan untuk mesin penjual
minuman otomatis. Dapat dia rasakan
sperma Tom masih di dalam tubuhnya
lalu dia kenakan celana dalam warna
emasnya. Dia tak mau madu cinta suaminya sampai menetes saat dia
berjalan di lorong nantinya. Jubah sutera
warna emas kembali dia bungkuskan
pada tubuhnya dan dia kemudian keluar
dari kamarnya. Dia tahu betul betapa
jubahnya tersebut begitu minim. Tentu saja, meskipun kini dia memakai celana
dalam, itu tak banyak membantu juga.
Masih tak mampu dia tepis perasaan
ketelanjangannya. Jubah tersebut
terlihat menggantung pada
payudaranya, memberikan pemandangan yang begitu jelas akan
ukuran serta kekencangan buah dada
tersebut. Belahan samping dari tangan
hingga pinggang juga patut
dipertanyakan, karena selalu
memperlihatkan celana dalamnya setiap kali kakinya melangkah dengan
tergesa menyusuri lorong, meskipun
hanya sekilas lalu. Dia tak memikirkan
tentang apapun lainnya. Matanya
terfokus pada mesin minuman serta
rasa haus yang menyerang tenggorokannya dengan hebat. Udara terasa sedikit lebih dingin di
lorong dan dapat dia rasakan gelenyar
rasa yang dia kenali merayap naik di
paha dan di balik jubahnya. Dia
berpapasan dengan beberapa pria di
lorong, dapat dia lihat mereka melirik ke arahnya saat bersimpangan. Akhirnya
dia sampai ke mesin minuman dan
segera dia masukkan recehannya.
Kaleng teh dinginnya jatuh keluar dan
dengan berhati-hati dia mengambilnya.
Sesuatu menekan pantatnya. Dengan sigap Alice berdiri, siap untuk teriak
pada seseorang yang telah
menyentuhnya. Ternyata sang pria.
Alice melihat bayangan sang pria dari
pantulan pada mesin di depannya. Alice
membeku, begitu terkejut dan tetap terdiam saja seperti perjumpaan-
perjumpaan mereka yang sebelumnya.
Dapat Alice lihat sang pria hanya
memakai celana pendek saja dan dia
sadar kalau yang tengah menekannya
sekarang tak lain dan tak bukan adalah penis ereksi sang pria. Sang pria
menyingkapkan jubah Alice. Alice masih
tetap membeku saat sang pria
mengekspos pantat indahnya. Masih
tetap dia membeku saat tangan sang
pria menekan celana dalamnya. Sebuah jari menyelip ke dalam karet celana
dalamnya dan meluncur melintasi
pinggangnya. Alice harus menghentikan
sang pria… dia harus menghentikannya … pikiran itu terus berulang dalam benaknya. Sang pria
mendorongkan pinggangnya pada Alice,
menekan penis kerasnya tepat di celah
bongkahan pantatnya. Alice masih terus
menghadap ke arah mesin. Tangan sang
pria bergerak naik meninggalkan pinggang Alice dan menekan payudara
terlarangnya dari luar jubah sutera.
Jemari sang pria mulai bermain dengan
tali jubah tersebut. Tiba-tiba saja Alice
ingat suatu hal; dia tak pakai bra. Jika
sang pria membuka jubahnya, payudaranya akan tersuguh bebas di
hadapannya. Itu tak boleh terjadi,
meskipun dapat dia nikmati
sentuhannya itu. Meskipun sejujurnya
dia menyukai ide gila itu. Alice tangkap
tangan sang pria dan menyingkirkannya dari payudaranya. Sang pria
membiarkan Alice menepiskan
tangannya menjauh. Alice merasakan
tangan itu jatuh di samping tubuhnya.
Alice tercekat oleh rasa dingin dari
kaleng minuman. Ternyata tadi sang pria asing menaruh kaleng itu di belahan
payudaranya. Dapat Alice rasakan berat
kaleng minuman itu menekan kalung
rantainya menekan tajam pada
dagingnya.
“Uhh…” rasa dingin itu membuatnya melenguh. Dia rasakan kedua putingnya
segera mengeras oleh sensasi rasa
dinginnya. Sang pria memindahkan
kaleng itu melewati payudara kirinya,
melembabkan jubah suteranya dengan
dinginnya. Setetes air jatuh mengaliri belahan
payudaranya, membuat dadanya
merinding kedinginan lagi dan
menyebabkan dia tersengal. Tubuhnya
masih tetap membeku, tapi hanya
separuhnya disebabkan oleh dinginnya kaleng. Sang pria menaik turunkan
kaleng itu menggesek puting sebelah
kanannya. Alice merasakan
ketaksadaran sama seperti
sebelumnya. Kenapa dia biarkan sang
pria menyentuhnya seperti ini? Kenapa dia jadi begitu terangsang? Dia putuskan
untuk menghentikannya, namun
tubuhnya menolak untuk
mematuhinya … tak ada yang salah dengan sentuhannya …Sang pria berusaha menyelipkan kaleng minuman
itu diantara lipatan jubah, dan mulai
meluncurkannya turun. Perbuatannya
itu menyebabkan jubahnya terbuka,
membuat area dada Alice terekspos
semakin luas. Alice mengamati rantai kalungnya yang mulai terlihat, lalu
bayangan lingkar payudaranya yang
kenyal. Tubuh sang pria kini sepenuhnya
menekan Alice, menghangatkan bagian
belakangnya, sedangkan bagian depan
tubuh Alice terbuka kedinginan. Dapat dia rasakan nafas hangat sang pria
menerpa lehernya kala jubahnya mulai
terbuka. Alice memandang turun pada
belahan dadanya, mencemaskan
keterbukaan payudaranya yang sangat
bisa dinikmati mata sang pria jika dia mengintip dari balik pundaknya. Sang
pria mencium leher Alice. Dan Alicepun
tetap terdiam membeku. Jika sang pria
mencoba untuk membuka jubah Alice
sepenuhnya, Alice akan membiarkan
saja… TIDAK! Dia tangkap tangan sang pria. Tangan itu terasa dingin karena
kaleng minumannya dan daging tubuh
Alice serasa terbakar kala tangan sang
pria menekan tubuhnya. Tak akan dia
perlihatkan payudaranya. Tak akan dia
biarkan sang pria membuka jubahnya dan melihat bagian tubuh terlarangnya
yang hanya boleh untuk mata suaminya
saja! Tangan sang pria kembali ke
pinggang Alice. Alice perhatikan kalau
jubahnya telah terbuka hingga perutnya.
Dia perhatikan kalung rantainya tetap berada diantara payudaranya – terjepit diantara kehangatan belahan dadanya.
Putingnya masih tertutupi. Alice merasa
menang dengan kenyataan tersebut.
Sang pria telah melihat banyak, namun
belum ada bagian yang terlarang. Sang
pria mulai menggoyang. Dia gerakkan penisnya ke tubuh Alice, menggodanya
dengan panjang batang penis serta
gairahnya. Ya ampun … Alice merasakan sebuah gelombang hangat mulai
menyebar di pahanya. Dia ingin
menjauh. Dia ingin lari. Tapi dia tidaklah
sedang bersetubuh, dia tidak sedang
bersetubuh… Dia masih terlindungi oleh celana pendek sang pria dan juga celana
dalamnya. Dia tidak sedang bersetubuh …Namun siraman erotis masih cukup bagi
tubuhnya untuk mendorong ke belakang
secara insting ke batang penis sang pria.
“Ohh!” Alice tersentak kala sang pria menekannya ke arah mesin, membuat
kaleng teh dingin terjatuh. Tangan sang
pria mulai mengelus pinggulnya,
menyingkap jubahnya hingga sebatas
pinggang seiring tekanannya yang
semakin keras. “Wow !” Alice mendengar dua orang pria melewati mereka. Mereka
melihatnya tengah dihentak oleh sang
pria.
“Ya ampun !” seorang wanita lewat. Dia melihatnya tengah digoyang oleh
sang pria.
Orang ketiga bersiul. Dia melihatnya
tengah disodok oleh sang pria. Tangan
sang pria bergerak naik di dalam jubah
Alice. Kulit telanjang pinggangnya telah disentuh. Tak apa-apa … tak masalah … pikir Alice. Masih tidak terlarang … Kenapa? Mengapa? Kenapa aku
membiarkan pria ini melakukannya?
Alice mencoba berasio akan sikap
membiarkannya saat tubuhnya
tergesek pada mesin minuman dengan
pelan. “Mami, mereka sedang apa ?” Alice perhatikan seorang pria kecil dari
sudut matanya.
“Ayo pergi, Donnie! Pergi dari sana !” Sang mami mencoba menarik anaknya
menjauh dari pemandangan seorang
pria asing dengan metodis
menggesekkan penisnya ke celana
dalam Alice. Menjauh dari gambaran
akan tangan sang pria membelai tubuh wanita yang hampir telanjang dengan
pinggang terekspos dan tubuhnya
terhentak ke mesin minuman. Tapi si
pria kecil menepiskan tangan maminya
saat dia menyaksikan tangan sang pria
meraih payudara telanjang Alice dari dalam jubahnya …Alice terhenyak oleh karenanya. Sentuhan tangan sang pria
pada keindahan bulatan kenyal dadanya
adalah titik batasnya. Itu sudah
terlarang. Ataukah itu disebabkan oleh
keberadaan si pria kecil dan maminya?
Alice bergegas pergi melewati mereka semua, tanpa melihat lagi pada sang
pria atau si pria kecil yang melongo. Di
sepanjang jalannya berharap bahwa
sentuhan terlarang sang prialah yang
membuatnya menghentikan semua.
Bukannya kenyataan kalau mereka telah terganggu… *** “Hey, ada apa denganmu ?” Alice menatap pantulan dirinya di cermin saat
dia bicara dibawah nafasnya. Dia baru
saja bangun tidur dan sekarang harus
menghadapi kenyataan dari kejadian
malam sebelumnya. Dia menolak untuk
memikirkan tentang kelengahannya saat sang pria beraksi terhadapnya.
Tom tengah mandi dan kini dia sendirian
di kamar mereka, memikirkan …Dia duduk di ranjang, merasa bersalah
dengan apa yang sudah terjadi kala dia
kembali ke kamarnya. Dia bangunkan
Tom. Sekali lagi dia berusaha untuk
membangunkan penis suaminya yang
lelah. Dia begitu menghendaki untuk segera disetubuhi oleh suaminya. Jika
perlu Alice akan menyetubuh tangan
suaminya saja andaikan suaminya tidak
juga bangun. Tapi Alice tahu kalau dia
tak melepasnya begitu saja. Awalnya,
dia palsukan orgasme bersama Tom. Dia palsukan kenikmatannya, dia palsukan
erangannya, dia palsukan kepuasannya.
Tubuhnya bergetar oleh gairah seksual,
tapi seolah-olah tangan Tom sudah tak
berperasaan. Tak lagi bisa menstimulasi
kulit lembutnya. Bibir Tom tak mampu memadamkan dahaganya yang
membara. Penis kerasnya tak bisa
mengisi kekosongan birahinya. Dia
meminta suaminya untuk
mengambilkan sekaleng teh dingin
untuknya. Tak mungkin dia kembali ke lorong itu lagi. Tom telah kembali,
ekspresi kelelahan mendominasi
wajahnya. Bahkan dia tak menutup
pintu dengan benar dibelakangnya. Dia
rebah ke atas ranjang di samping
isterinya dan dengan segera jatuh terlelap kala isterinya meneguk redakan
dahaganya. *** Alice bangkit, bersiap untuk
mengenakan pakaiannya. Dia ambil
celana dalam berwarna emasnya dan
secara rutin memakainya. Dia amati
tasnya dan keinginan untuk mencari di
dalamnya sirna dengan cepat. Yang dia tahu hanyalah dia merasakan
ketakpastian. Dia pungut jubah dengan
warna senada dari lantai dan
memakainya lalu mengikatnya kencang.
Dia bertanya-tanya apakah setelah Tom
keluar dari kamar mandi nanti, gairah seksnya juga akan segar kembali.
Kelihatannya itu sudah tak masalah lagi.
Dia dudukkan tubuhnya di depan cermin
dan mulai menyisir rambutnya. Segera
saja kilau indahnya kembali lagi. Alice
merasa matanya mencari sesuatu yang lebih lagi dibalik jubahnya … pada kalung rantai yang tergantung nyaman diantara
payudaranya. Pintu kamarnya dibuka … Alice memandang dalam cermin dan
melihat sang pria. Dia tak merasa
terkejut, sama sekali tak merasakan
takut. Sang pria terlihat bimbang,
seakan kemarahan Alice terhadapnya
kemarin malam adalah akhir dari affair kecil mereka. Alice balas menatap sang
pria dari dalam cermin. Dia masih tetap
memakai celana pendek yang sama
dengan kemarin malam. Alice berdiri,
mengenakan jubah dan celana dalam
yang sama seperti yang dia pakai dalam pertemuan terakhir mereka. Jubah
sama yang dia basahi dengan kaleng
minuman. Jubah sutera lembut sama
yang hampir dia lucuti dari tubuh indah
Alice. Alice sadar sang pria telah
menyentuhnya dimana seharusnya tak dia biarkan disentuh seorang pria. Tapi
dia telah membuat batas. Dia berlalu
kala sentuhan sang pria berkembang ke
arah yang tak sepantasnya. Dia berlalu
sebelum sentuhan sang pria menjadi
benar-benar terlarang. Sekali di dalam lift. Satu kali di restoran. Sekali di lorong.
Alice membuka jubahnya. Kain sutera
yang lembut perlahan meluncur
menuruni kulit putihnya. Kalung
rantainya jadi terlihat. Bulatan
payudaranya terbuka di depan mata, bersama dengan puting merah
mudanya yang lembut. Dia tawarkan
payudaranya pada sang pria. Dia
tawarkan padanya sentuhan terlarang.
Sang pria menciumnya, penuh hasrat
dan basah. Dia raba dan remas payudaranya. Alice menangkap
tangannya, tapi kali ini bukan untuk
menepiskannya. Dia bawa telapak
tangan sang pria pada putingnya,
menyusupkannya dalam belahan
dadanya dan memijat dirinya sendiri dengan sentuhan terlarang sang pria. Payudara Alice bergerak mengikuti
cengkeramannya yang sepenuh gairah.
Putingnya melentur dibawah jari sang
pria. Lalu Alice bawa tangan sang pria
ke mulutnya dan menghisap rasanya.
Dia hempaskan tubuh Alice ke ranjang, Tubuh Alice terpantul di atasnya,
payudaranya bergoyang seirama
pantulannya. Alice juga lepaskan celana
dalamnya kala sang pria melepas
celana pendeknya. Ingin Alice teriak
saat sang pria melakukan penetrasi terhadapnya. Ingin dia suarakan
kenikmatan seutuhnya yang dia rasa
saat batang penis sang pria meluncur ke
dalam tubuhnya. Sang pria
menyutubuhinya dengan kasar, liar,
sodokannya menghujam dalam, membawa penisnya menembus ke
bagian tubuh Alice terdalam. Kedua
tubuh mereka terlontar liar naik turun di
atas ranjang. Alice tautkan pahanya
yang terentang lebar melingkari sang
pecintanya. Payudaranya terayun liar, seliar persetubuhan yang mereka
lakukan. Segenap nalar sehat Alice
menguap. Birahinya memegang kendali.
Sekujur tubuhnya tergetar dan
terhempaskan oleh persetubuhan paling
murni yang pernah dia tahu. Alice menginginkan penis sang pria, Alice
membutuhkan ejakulasi sperma sang
pria. Dia ingin menyetubuhi sang pria
lagi dan lagi kala penis menawan milik
sang pria meluncur keluar masuk di
dalam lorong vaginanya. Sepasang mata itu… tatapannya … Alice merasakan birahi sang pria meraih pemenuhannya
dalam tiap gerak persetubuhan yang dia
lakukan. Ranjang itu berderit seirama
ayunan birahi keduanya, terasa begitu
nyaring, senyaring yang
memungkinkan. Penis sang pria mengirimkan rasa sakit padanya,
namun Alice malah semakin keras
menghentakkannya. “Setubuhi aku … setubuhilah…” Alice menjerit pada dirinya sendiri berulang
kali. Jadilah pejantanku, jadilah
pecintaku … Gerakan sang pria semakin intens dan
liar. Dia sadar keberadaan suami Alice di
dalam kamar mandi, dan teramat sadar
jika dia harus menyetubuhinya dengan
cepat dan tepat. Dia fokuskan
perhatiannya pada payudara Alice yang terguncang dan kalung rantainya yang
terlempar di sekitar daging kenyal
tersebut. “Oh… oh… oh…” Alice menngerang tertahan dalam setiap sodokan sang
pria. Jubahnya terjuntai membuka
penuh di samping tubuhnya.
Sang pria melihat kecantikan Alice
seutuhnya. Alice tersenyum oleh
karenanya. Sang pria telah melihat wajahnya, payudaranya, vaginanya … dia telanjang bersama sang pria, pria
yang bukanlah suaminya.. Sang pria
menggeram. Spermanya menyembur
dalam tubuh Alice, menjilati dinding
lorong vagina Alice yang basah. Alice
merasakannya mengalir keluar dari dalam tubuhnya, menggelitik kelentit
serta pahanya. Oohh, spermanya … vaginanya terasa begitu hidup oleh rasa
basah dan lengketnya. Mengalir keluar
dari dalam vaginanya, menuruni
pahanya dan jatuh di atas seprei.
“Usaplah! Oh kumohon, gosoklah !” dia hanya memikirkan kata tersebut,
tapi itu terjawabkan.
Sang pria mengambil selimut dan
menyelipkannya diantara paha Alice.
“Ohh… oohhh…” Kaki Alice menendang tak terkontrol
saat jari sang pria mendorongkan
spermanya masuk ke dalam vaginanya.
Tak ada celana dalam di hadapannya.
Tak ada yang mencegah spermanya.
Sang pria menggesek Alice dengan cepat dan keras. Kalung rantai terlontar
di payudara Alice, pengaitnya sudah
beralih ke depan. Alice menangkap
rantainya dan menyingkirkan dari
payudaranya. Sang pria bergerak naik
ke atas Alice, batang penisnya sudah mengeras lagi. Kalung rantai itu sudah
hilang… sekarang tergantikan oleh batang penis mengkilat milik sang pria.
Batan penis basah tersebut meluncur di
belahan payudaranya. Alice menekan
payudaranya merapat, menjepitkannya
pada batang sang pria yang licin. Tangan
sang pria bergabung dengan tangan Alice dan memijat payudara Alice saat
batang penisnya bergerak
menyetubuhinya. Suara shower berhenti. Sang pria tetap
mengayun. Alice terus menyetubuhinya.
Dia dengar suara suaminya
menyingkapkan tirai. Dia dengar suara
suaminya menggosok gigi. Tapi dia
fokus pada suara basah dari penis sang pria yang tengah menyetubuhi
payudaranya. “Keluarkanlah … Oh, keluarkanlah untukku.. keluarkanlah di atas
tubuhku …” Sperma sang pria menyembur ke
lehernya, meninggalkan jejak berkilau
putih di sepanjang dada Alice. Alice
angkat kepalanya dan mengecap rasa
sperma sang pria yang beberapa
menyembur ke mulutnya. Sang pria bangkit dan memindahkan penisnya ke
bibir Alice. Alice menyambutnya,
menghisap lahap campuran sperma
sang pria dengan madu birahi
vaginanya sendiri dari ujung hingga di
sepanjang batang penis sang pria. Suara pisau cukur listrik suaminya berhenti.
Alice melompat dari ranjang. Sang pria
yang sudah memakai celana pendeknya
dengan cepat menuju ke pintu keluar.
Alice membungkus payudaranya yang
berlumuran sperma dengan jubahnya. Tom muncul, masih ada sisa air menetes
dari tubuhnya. Alice berdiri di hadapan
suaminya.
“Mmmm.” Tom bergumam saat dia cium pengantinnya. Tangannya
bergerak ke tali jubah Alice … Alice memegang tangan suaminya dan
menepiskannya ke samping. Dia
melenggang ke dalam kamar mandi
untuk membersihkan sperma sang pria
dari vagina dan payudaranya. Sebentar
lagi, dia akan pergi mengambil sekaleng teh dingin.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar